“Le Banquier des Humbles”

Film dokumenter berdurasi 52 menit karya Amirul Arham ini menceritakan mengenai sosok Muhammad Yunus dengan Grameen Banknya di Bangladesh. Dia mendapat hadiah Nobel Perdamaian tahun 2006 mengalahkan SBY yang juga nominator untuk itu.

Le Banquier des Humbles dengan apik menceritakan bagaimana Grameen Bank bekerja. Dibuka dengan penjelasan Muhammad Yunus yang menjelaskan ketertarikannya membantu para wanita di Bangladesh untuk dapat keluar dari belenggu kemiskinan yang menjerat mereka selama bertahun-tahun. Sebagai seorang dosen yang mengajar ekonomi, dia merasa terpanggil untuk berbuat sesuatu guna menghilangkan kemiskinan itu.

Potret Desa Bangladesh.jpg banquier-1.jpg
Tergambarkan betapa miskinnya kehidupan mereka, dalam film itu diperlihatkan kehidupan sehari-hari desa-desa di Bangladesh. Nampak pemandangan orang yang sedang menganyam perkakas dari batang bambu, menjemur padi, mengambil air dari sumur dengan menggunakan timba “senggot”, yaitu timba yang menggunakan tali panjang yang ujungnya diikatkan ke sebuah batang bambu yang ditaruh sedemikian rupa sehingga bambu itu menyerupai timbangan dengan pemberat diujung satunya lagi, dalam memasak mereka juga masih menggunakan kayu sebagai bahan bakarnya dan perkakas yang seluruhnya terbuat dari tanah liat, persis seperti yang banyak kita saksikan dulu diera tahun 70an dihampir seluruh desa di pulau Jawa, yang membedakan mungkin hanya dari pakaian yang dikenakan, mereka nampak terlihat lebih meriah karena warni-warni mencolok kain yang mereka pakai.

Dengan menaiki sepeda, para pegawai Grameen Bank (GB) mendatangai calon-calon nasabah atau tepatnya kreditor yang hampir semuanya wanita, mereka melakukan riset sederhana berupa wawancara mengenai kebutuhan mereka dan kesanggupan mengembalikan pinjaman itu, tentu dengan cara mencicil. Kebanyakan diantara mereka setelah ditanya untuk apa pinjam uang, mengatakan uang yang didapat dari GB akan diberikan kepada suaminya karena mereka tidak tahu untuk dipakai usaha apa, beberapa dari mereka bahkan belum pernah memegang uang, urusan uang adalah urusan kaum lelaki, begitu katanya. Dengan sabar para pegawai GB mencoba menggali “potensi” mereka. Setelah yakin bahwa pinjaman uang tersebut akan dikelola langsung oleh para ibu tersebut barulah diberikan pinjamannya. Pemberian kredit ini begitu unik, karena diberikan begitu saja tanpa ada selembarpun kertas yang ditandatangani oleh para penerima, kemungkinan besar mereka itu buta huruf, pencatatan hanya dilakukan oleh para pegawai GB. Proses wawancaranyapun menarik, mereka line up antri disuatu ruangan kecil dihadapan seorang petugas yang duduk mewawancari mereka, bergiliran mereka ditanya, selesai wawancara uang pun berpindah tangan, begitu seterusnya sampai antrian habis, tidak nampak seorang pun yang ditolak dalam proses pemberian kredit ini.

Dalam mencicil pinjaman, kembali diperlihatkan seorang petugas GB duduk diatas kursi sederhana dihalaman rumah penduduk, terlihat disebelahnya sepeda dinas yang berdiri diatas standarnya, dihadapannya duduk, lebih tepatnya ‘nongkrong’ karena memang mereka benar2 nongkrong, terlihat mereka sudah siap dengan uang cicilan dan selembar kartu di tangan masing-masing. Petugas itu mengabsen mereka dengan cara menyebut nama satu persatu, menerima uang cicilan dan mencatatnya di kartu yang mereka pegang dan mengembalikan kartu itu kembali kepada mereka.

Muhammad Yunus seringkali berkeliling menemui para nasabahnya, dia mengenal mereka seperti mereka mengenalnya, satu persatu dihampirinya seraya mengucapkan salam, disapa dan ditanya, nampak berderet para wanita dengan sapi-sapi disampingnya, ketika ditanya, “Berapa banyak uang untuk membeli sapi ini dulu?”, “8000 taka”, “Berapa nanti jika dijual?”, “12.000 taka”, jawab wanita itu. “Nah ada selisih keuntungan sebesar 4000 taka, pakailah itu untuk keperluan sekolah”, kata Muhammad Yunus lagi.

Grameen Bank , grameen yang dalam bahasa Bengal artinya kampung, kini memiliki 14.000 pegawai yang tersebar di 1.400 cabang diseluruh Bangladesh dengan jumlah nasabah lebih dari 11 juta orang, 94% diantaranya adalah wanita, jumlah uang yang telah didistribusikan hampir 5 milyar USD. Padahal awalnya hanya berupa pemberian sebesar 27 USD yang dikeluarkan dari kantong sendiri dan dibagikan kepada 42 wanita miskin didesa yang lalu dibelikan ayam atau dipakai berjualan telor.

Selama penayangan film tersebut, entah kenapa saya selalu teringat dengan para tukang kredit keliling yang dulu sering saya jumpai, kebanyakan dari mereka berasal dari daerah Tasikmalaya.

Masih segar dalam ingatan, seorang bapak yang menaiki sepeda dengan sebuah tas kecil yang dihampirkan disepedanya dan dibelakang sepedanya ditempat boncengan, nampak tumpukan barang-barang kebutuhan sehari-hari yang kebanyakan terbuat dari plastik. Dia berkeliling kampung menwarkan barang dagangannya, para ibu-ibu banyak yang senang menyambutnya, karena dimata mereka, bapak ini adalah penolong. Para ibu-ibu tadi tidak perlu membayar tunai, boleh dicicil pembayarannya setiap hari, 1000 atau 2000 rupiah sesuai kemampuan (dulu mungkin seperak dua ratus perak kali ya). Terlihat ada yang mengambil kursi plastik, kompor, minyak goreng dan lain sebagainya, bahkan tidak jarang si bapak itu sibuk mencatat pesanan para ibu-ibu, yang keesokan harinya pasti dia sudah kembali kepada ibu-ibu itu lengkap dengan barang pesanan mereka.

Semua transaksi ini tanpa memerlukan tanda tangan ibu-ibu itu atau surat hutang yang canggih-canggih lengkap dengan materai atau apalagi akta notaris, semuanya dilakukan atas dasar saling percaya, si bapak ini hanya mencatatnya dalam buku yang selalu nampak dia bawa-bawa berkeliling, dia tidak pernah meminta colateral atau jaminan berupa apapun bahkan si bapak ini pun tidak pernah memaksa para ibu-ibu untuk membayar cicilannya itu, cicilan diserahkan sepenuhnya sesuai kemampuan masing-masing, kadang dia mendapat pembayaran teratur kadang tidak tapi yang pasti dia tetap setia menemui ibu-ibu tersebut setiap harinya. Tidak pernah terjadi sengketa apalagi sampai berurusan dengan polisi, jaksa dan pengadilan, tidak ada sita barang, semua diselesaikan dengan cara kekeluargaan dan damai, tidak jarang si bapak ini tidak mendapatkan kembali uangnya tersebut, kebanyakan dia mengalah dan pasrah, mungkin karena si bapak ini adalah perantauan didesa tersebut…entah…yang pasti kebanyakan orang semacam bapak tersebut dikenal berasal dari daerah yang yang sama yaitu Tasikmalaya yang pergi mengembara mencoba mencari peruntungan nasib yang lebih baik.

Tukang Kredit, itulah gelar mereka…..dari Tasik, itu tambahan gelar bagi mereka. Sayang mereka telah kena stigmasisasi, konotasi jelek melekat kepada mereka dengan sebutan rentenir keliling. Marilah sejenak kita coba merenung, sesungguhnya potensi yang telah mereka tunjukkan ini luar biasa, mirip dengan Grameen Bank, tanpa agunan dan kebanyakan nasabahnya adalah ibu-ibu, mereka tidak pernah menjadi kaya raya, paling tidak dalam ingatan saya mereka tetap setia dengan sepedanya yang telah karatan dimakan usia, tidak ada satupun dari mereka yang kemudian kaya raya menjadi Milyuner, punya pabrik, perusahaan atau Bank ini itu…mereka fade away dimakan zaman…kini sulit mencari Tukang Kredit Keliling asal Tasik. Jika saja ada yang mau berpikir dan mengembangkan “system” mereka ini, saya yakin niscaya mereka tidak kalah dengan seorang Proessor seperti Muhammad Yunus, sungguh bangsa ini memiliki kekayaan khasanah yang demikian banyak, tinggal bagaimana kita mau belajar dan mengembangkan serta mengarahkannya sehingga menghasilkan banyak hal positif.

Slipi, Jakarta

8 Comments

Filed under Uncategorized

8 Responses to “Le Banquier des Humbles”

  1. Hari ini majalah Tempo juga memuat ulasan tentang Grameen Bank (GB) yang tentu saja juga memperkaya Film kemarin. Di satu sisi saya lihat GB berkembang, juga karena ada politicall Will atau lebih tepat guts dari kita terutama pemerintah. Mengakui dan memfasilitasi sistem perbankan dengan model seperti ini.

    Bukan hanya Tasik, tetapi juga model arisan. Bahkan salahsatunya di Tempo juga memuat tentang Credit Union-yang implemantasinya mirip dengan arisan saat ini jumlah modalnya sampai 4 Trilyun dari Yysan Pancur Kasih. Luar biasa untuk skema perekonomian dari desa atau tepatnya kekuatan dari si miskin. Bahkan saya lihat di Kalbar itu tidak di jumapai adanya BRI (yang konon kabarnya Bank desa-versi pemerintah). Namun yang ada adalah Bank desa atau CU yang di dampingi oleh Pancur Kasih.

    Saya sepakat memang kita kaya sekali dengan inisiatif, namun tidak di dukung dengan Will yang baik. Banyak inisiatif yang baik. Tetapi tidak di rawat, malah di hajar balik. Contohnya saja di Sekadau-petani Karet alam. di paksa untuk menggadai tanahnya yang rencana dipakai untuk Sawit. Namun karena mereka kuat, biasa arisan-entah dgn uang atau karet. Kini pelan tapi pasti mereka memiliki bank desa-mirip dengan GB. Banyak juga contohnya yang lain.Bahkan ketika kami tahun 1999 mengadop GB di GN. Salak-masih ingat saja kita di curigai sebagai misionaris. Karena memberi uang tanpa jaminan. Berbeda dengan kegiatan serupa yang di lakukan komunitas tertentu dengan di provokasi aparat. Program kami masih berjalan-tetapi sempat mengalami banyak kendala disana-sini.

    Tentu saja replikasi kita banyak kendala dan jarang sekali besar. Termasuk kenapa ekonomi kita selalu membela si konglomerat-daripada the poor. yang jelas membutuhkan. bukan karena mereka tidak mampu mengembalikan (terbukti 95 % pengembalian GB berhasil). Namun karena akses dan kesempatan yang di berikan tidak cocok dengan the poor. Bagaimana mereka mau masuk bank yang ribet dengan sistem seperti ini ?. Mau menyetor saja sulit. apalagi mau meminjam ?.

    Nyatanya pengembangan UMKM itu hanya bias jargon semata. Walaupun bukti telah acapkali terlampirkan dan fakta yang tidak terbantahkan. Bahwa si miskin itu bukan berarti tidak mampu. Sungguh kita telah menyepelekan….

  2. Benar sekali Gung, mari kita sama-sama gali potensi bangsa ini dan lanjutkan perjuangan membela si miskin. Merdekakan mereka dari kemelaratan!

  3. hadi

    Koperasi merupakan konsep yang diwariskan oleh founding father kita yang sangat jitu memberdayakan ekonomi lemah, memerdekakan kaum miskin. Berbagai fihak perlu urun rembuk positif untuk menjalankan koperasi ini. Pedoman sdh lengkap disusun oleh pemerintah mengenai pemberdayaan KUKM ( Koperasi dan Usaha Kecil Menengah ) tapi belum optimal implementasinya.
    Sy siap bantu Pak Mubarik untuk gerakan konkrit bantu KUKM ini. Merdeka!!

  4. Bener sekali Di, Koperasi adalah salah satu solusi yang belum optimal dalam implementasinya. Pertanyaannya apakah begitu susah mendapatkan SDM yang dapat dipercaya dan jujur? Selain itu rasanya perlu dibentuk suatu lembaga atau badan pengawas resmi yang bertanggung jawab untuk mengawasi jalannya Koperasi.
    Salam.

  5. Benar, ini terjadi dimana-mana.
    Termasuk ketika NAD. Uang begitu mudah kalau kita punya stempel Koperasi. Tidak peduli apakah Koperasinya itu ada atau telah tiada. Yang penting tersalurkan, namun tidak tepat sasaran.

    So, koperasi sudah lama kolaps-pengurusnya antar keluarga. Bagaimana bisa benar ?.
    So, terakhir saya di Aceh ketemu dengan salahsatu petinggi BRR mengatakan-pentingnya lembaga pengawas ini yang mengecek-verifikasi, mengaudit dan mengevaluasi-perjalanan koperasi.

    Kalau berhasil dan setengah jalan. Barangkali ini bisa di replikasi di banyak daerah. Tentu saja sambil terus di perbaiki….

  6. Duh, sedihnya jadi orang miskin.
    Udah miskin, dikasihani lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s