Friday, November 10, 2006...10:56 pm

Pahlawan disekitar kita

Jump to Comments

Hari ini, Jumat 10 November 2006, ada begitu banyak undangan untuk memperingati Hari Pahlawan di negeri ini. Entah kenapa rasanya malas untuk hadir, bukan apa-apa rasanya perayaan ini akan sama saja seperti tahun-tahun yang telah lalu. Kita diajak kembali mengenang jasa-jasa para pahlawan tersebut yang memang nyata telah banyak berbuat untuk negeri ini, tetapi sedikit sekali yang mau mempelajari dan mengikuti jejak-jejak mereka, sepertinya kisah-kisah mereka hanya menjadi hiasan sejarah bangsa.

Ya memang banyak yang telah melupakan bagaimana awal perjuangan para pahlawan besar negeri ini, sesungguhnya para pahlawan tersebut berjuang dari hal-hal sepele yang nampak dalam kehidupan sehari-hari mereka, yakni dimulai dari membela si lemah. Hati mereka tidak tenteram dan gelisah karena mengetahui ada saudara sebangsanya yang hidup dalam penderitaan dan penindasan, bahkan mereka ini berani keluar dari kenyamanan dan kemapanan hidup mereka hanya demi memperjuangkan nasib saudara sebangsanya itu, berbagai resiko dengan berani mereka hadapi.

Dalam kekinian untunglah masih ada beberapa anak bangsa yang masih mau berjuang bersama memikirkan nasib si lemah yang terpinggirkan, korban berbagai kepentingan di negeri ini, mereka menaruh rasa kasih yang tulus terhadap nasib si lemah di tanah airnya sendiri, terusir dari kampung halamannya, dipaksa keluar dari keyakinan yang telah dijalaninya puluhan tahun atau dipaksa untuk mengikuti agama ‘resmi’ di negeri ini. Ada banyak catatan mengenai hal ini, ditutupnya tempat-tempat ibadah warga Kristiani yang telah mereka pergunakan bertahun lamanya dengan berbagai alasan yang dibuat-buat, dirusak dan dibakarnya masjid-masjid warga Ahmadiyah tempat mereka shalat berjamaah semenjak mereka kecil dulu bahkan beribu penghayat Kepercayaan tidak mendapat perlakuan yang layak dari Pemerintahnya yang notabene adalah bangsanya sendiri, pernikahan mereka tidak diakui dengan akibat fatal yakni tidak adanya surat nikah dan ini berimbas langsung kepada anak keturunan mereka, Pemerintah dengan sengaja tidak mengeluarkan sekedar Akta Kelahiran buat anak-anak mereka, padahal seluruh urusan birokrasi di negeri ini melulu berdasarkan kepada selembar Akta Kelahiran atau Surat TandaKenal Lahir…sungguh kasihan nasib mereka ini.

Patut kita bersyukur, negeri ini ternyata masih mempunyai beberapa anak bangsa yang berperilaku luhur, yang begitu besar perhatiannya kepada nasib saudara sebangsanya yang tidak begitu beruntung yang karena berbagai sebab telah menjadi korban yang terpinggirkan dan bahkan hampir terlupakan. Bangsa ini beruntung karena dikaruniai seorang Gus Dur yang memiliki wawasan kebangsaan dan kemanusiaan yang begitu luas, tanpa memperdulikan kondisi kesehatannya beliau tidak pernah lelah berbicara kesana kemari, hadir dalam seminar-seminar dan acara-acara talk show langsung di media televisi, radio hanya untuk membela si lemah ini. Prof. Dr. Dawam Rahardjo yang kini terbaring lemah karena sakit masih tetap penuh semangat dan sangat produktif lewat tulisan-tulisannya membela kaum tertindas yang hanya karena berbeda penafsiran telah di “hukum” sedemikian rupa sehingga beberapa diantaranya seperti kehilangan hak untuk hidup di negri ini, mereka kini masih mengungsi di asrama Transito, sudah 9 bulan lamanya mereka terusir dari tempat mereka tinggal di desa Gegerung, Mataram, Lombok, karena inilah beliau kemudian dikeluarkan dari Muhammadiyah oleh Din Syamsudin, padahal Muhammadiyah adalah tempat beliau dibesarkan selama ini, banyak jasa-jasa beliau terhadap Muhammadiyah, bahkan kesedihan ibu kandung beliaupun tidak membuat mas Dawam surut dalam perjuangannya. Djohan Effendi dengan ICRP (Indonesian Conference On Religion and Peace) telah lama berjuang memfasilitasi tidak hanya si lemah yang berbeda keyakinan tetapi bahkan juga bagi yang ingin menikah antar agama, karena dinegeri ini pernikahan berbeda agama tidak diakui Pemerintahnya, ironisnya pernikahan yang dilakukan di Singapore, misalnya, diakui oleh Pemerintah negeri ini hanya karena pernikahan itu telah mendapat selembar akta dari negeri tetangga kita itu, menyedihkan memang. Bang Buyung (Dr.Iur. Adnan Buyung Nasution, S.H.) dalam kematangan usianya tampil gagah membela warga Ahmadiyah, berkali-kali sudah beliau datang ke DPRI-RI bertemu dengan para wakil bangsa untuk membicarakan masalah bangsa ini, ya memang masalah perbedaan keyakinan/agama/kepercayaan telah menjadi issue nasional bahkan dunia di negeri ini. Yang ditulis ini sesungguhnya adalah hanya sebagian kecil yang diketahui dan dapat disampaikan melalui media ini, ada banyak deretan prestasi mereka dalam membela si lemah di negeri ini.

Mudah-mudahan hari ini yang merupakan Hari Pahlawan, memberi inspirasi mendalam tidak hanya bagi segelintir anak bangsa, tetapi bagi kita semua, mari kita semua bangkit bersama, karena kita semua mampu untuk menjadi pahlawan negeri ini dan sesungguhnya kita adalah pahlawan-pahlawan sejati yang tanpa mengharap imbalan apapun yang diharapkan dan dinanti oleh banyak anak bangsa yang masih tertinggal dan bahkan tertindas hidup dibawah tekanan, ketakutan dan kemiskinan, mari kita merdekakan mereka…MERDEKA!!!

Slipi, Jakarta, Friday, November 10, 2006 22:56

Blogged with Flock

Leave a Reply