Sahabat

Sahabat….kata ini memiliki begitu banyak arti bagi seseorang, banyak yang mendambakan memiliki sahabat sejati yang senantiasa setia setiap saat dalam keadaan apapun bersedia menjadi tempat mengadu, bercerita, berharap dan mendapat pertolongan. Banyak sekali teori yang mencoba mendefinisikannya, Kong Hu Cu mengatakan, “Satu musuh terlalu banyak, seribu sahabat terasa masih kurang”. Sungguh betapa besar peran seoang sahabat dalam kehidupan seseorang.

Begitu banyak kisah yang telah terjadi dimuka bumi ini yang menceritakan kisah-kisah persahabatan sejati, tanpa sahabat niscaya tidak akan pernah kita mengenal orang-orang besar yang pernah tercatat dalam sejarah kehidupan manusia, mereka berjuang bersama, saling berbagi dan saling menghormati, keberhasilan mereka tidak lepas dari begitu banyak dukungan dan peran penting para sahabat yang mengelilingi dan menyertai kehidupan mereka.

Kita mengenal Attila the Hun, Jeng Ghis Khan, The Great Alexander, Napoleon Bonaparte, King Arthur bahkan Gajah Mada, aku yakin, niscaya tidak akan pernah mampu memenuhi sumpahnya yang terkenal itu, Sumpah Palapa, jika saja tidak dikelilingi oleh para Bhayangkara yang setia mengikuti kemana saja Dia pergi.

Tetapi yang menarik hatiku adalah bagaimana mereka ini memperlakukan para sahabatnya yang telah begitu setia hidup bersama dalam suka dan duka, berjuang bersama…banyak kisah sedih yang dialami para sahabat setia ini, Alexander terpaksa membunuh sahabatnya sendiri hanya karena masalah sepele, Hitler meninggalkan bahkan memburu para sahabat yang telah membesarkannya menjadi seorang Fuhrer…..Jeng Ghis Khan meragukan kesetiaan anak lelaki tertuanya sendiri padahal selama ini telah berjuang bersama sehingga mampu menaklukan daerah yang begitu luas…kebanyakan ini mereka gagal mempertahankan persahabatan justru dipuncak keberhasilan mereka. Intrik dan tipu muslihat mereka tebar hanya untuk saling menjatuhkan, konspirasi dan persekongkolan jahat marak tumbuh diantara mereka sendiri…sungguh aku menaruh iba mendalam akan nasib persahabatan mereka itu…..sungguh sayang.

Untunglah masih banyak kisah tentang persahabatan yang terjadi sebaliknya dari itu di duna ini, aku menerawang mengenang kembali kisah-kisah para orang suci dunia yang telah lama berlalu dari kita, bagaimana mereka memperlakukan para sahabatnya. Masih sering kita jumpai di Televisi kisah seorang Pendeta Budha yang diiringi kelima sahabat setianya, ada Sun Go Kong, Siluman Babi dlsbnya, Yesus dengan para sahabat dan murid setianya, Musa dengan Harun dan banyak lagi contoh…..

Diantara semua kisah itu ada satu riwayat yang begitu membekas dan mendalam jauh didalam lubuk hati sanubariku, yang bila mengingat-ingatnyanya kembali mampu meneteskan airmata kerinduan berjumpa dengan wujud sempurna tersebut, dia pernah hidup begitu lama jauh sebelum aku dilahirkan, ribuan tahun yang lalu. Membaca kisahnya membuat aku merasa begitu dekat dengannya, merasa begitu mengenalnya, serasa dia hidup dan hadir disekitarku dalam keadaan apapun, dalam keadaan cemas, khawatir, takut dan putus asa…sungguh dia hidup dialam pikiranku melalui ajaran-ajarannya yang sungguh mulia, lewat perilakunya yang memperlihatkan ketinggian akhlak sempurna yang mampu dicapai oleh seorang manusia….wujud yang begitu bersahaja, sederhana dan miskin harta dialah Muhammad Mustafa Rasulullah saw, sungguh aku patut bersyukur kepadaNya karena telah diperkenalkan dengan wujud mulia yang menjadi teladan dalam kehidupanku sehari-hari.

Mengenang kembali kehidupan beliau bersama para sahabatnya, mengenang kembali masa-masa diawal perjuangan, susah bersama, hijrah tertatih ke Madinah berdua dengan sahabat setianya, Abu bakar ra sambil dikejar-kejar kaum kuffar Makkah yang masih keluarga beliau saw sendiri sampai ketika tiba masa Kemenangan, masa Fatah Makkah dan dimulainya suatu kehidupan yang dikatakan dalam sejarah dunia adalah kehidupan dengan masa yang terbaik bagi seluruh umat manusia, tidak ada masa yang lebih baik dari masa itu…..dalam keadaan seperti itu, lihatlah bagaimana beliau saw dengan rendah hati memperlakukan para sahabatnya, tidak satupun ada sahabat yang ditinggalkannya, tidak satupun ada yang bersaksi mengenai perlakuan beliau terhadap para sahabatnya itu yang dapat memutuskan tali persahabatan mereka bahkan beberapa diantaranya walaupun bekas seorang budak dijadikannya anggota keluarganya dengan cara menikahkannya dengan sanak kerabat beliau sendiri. Abu Hurairah ra sahabatnya yang miskin dan dulu sering tinggal di masjid dengan kucing2nya dijadikannya Gubernur di Bashra yang makmur….bagiku inilah bentuk persahabatan antar manusia yang paling luhur, sungguh tidak ada bandingnya.

Persahabatan seperti itulah dambaanku, aku ingin, siapa saja yang pernah bergaul, bercakap-cakap, berkenalan, berjumpa dan bahkan walau hanya melihatku sekilas sekalipun, dia sudah kuanggap menjadi sahabatku, tanpa memandang berapa usianya saat itu bahkan bayi yang belum melekpun, aku ingin dalam keadaan apapun mereka tetaplah sahabatku, aku ingin tidak ada satupun kekuatan yang mampu mengendurkan ikatan tali persahabatan itu.

Slipi, Jakarta. Thursday, November 9, 2006

Blogged with Flock

1 Comment

Filed under Thoughts

One Response to Sahabat

  1. dildaar80

    Opini yang luar biasa..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s