“…mau kaya apa mau miskin?”

 

“Mubarik…mau kaya apa mau miskin?”, itulah pertanyaan yang diajukan oleh orang yang sangat saya hormati di Indonesia ini, Mln.H.Mahmud Ahmad Cheema, sembilan belas tahun yang lalu tepatnya hari Jumat tanggal 27 Februari 1987 sekitar pk.22.00 dirumah Ketua Cabang Tangerang, Rujito Hadi (alm).

Hari itu kebetulan Cabang Tangerang mendapatkan karunia dikunjungi oleh Amir/RaisutTabligh Jemaat Ahmadiyah Indonesia, Mln.H.Mahmud Ahmad Cheema yang didampingi oleh Mln.Zafrullah Nasir Ahmad dan Mln.Basyiruddin Ahmad (alm), saat itu saya berusia 24 tahun dan menjabat Sekretaris Khas Cabang Tangerang.

Kunjungan tersebut adalah kunjungan kerja resmi Amir/RaisutTabligh ke Cabang Tangerang, diawali dengan shalat Jumat, kemudian makan siang bersama di Masjid An Nur, Babakan Tangerang dan dilanjutkan dengan rapat pengurus, boleh dibilang cukup lengkap hadir hampir semua pengurus, acara diakhiri dengan shalat Maghrib dijama Isya dan ditutup dengan makan malam bersama.

Saya tidak akan menceritakan jalannya rapat itu, tetapi ada sesuatu kejadian menarik yang akan saya ceritakan yang terjadi saat rombongan akan bermalam menginap dirumah Ketua Cabang Jl.Nyi Mas Melati No,2B. Kami tiba dirumah Ketua Cabang sekitar pk.19.00, kami hanya ngobrol2 ringan sambil minum teh susu panas yang disediakan tuan rumah, karena waktu sudah cukup malam yakni sekitar pk.22.00 maka tuan rumah mempersilahkan rombongan untuk beristirahat…nah disaat seperti itulah entah kenapa tiba-tiba Amir/RaisutTabligh, Mln.H.Mahmud Ahmad Cheema mengajukan pertanyaan khusus tersebut langsung kepada saya, “Mubarik…mau kaya apa mau miskin?”.

Terus terang pertanyaan itu telah saya pendam selama 6 tahun. Pertanyaan ini muncul dibenak saya sejak saya gagal masuk AKABRI pada tahun 1981 setelah diuji selama satu bulan penuh di Magelang, padahal dulu tuh PD banget rasanya bakalan keterima hehehe. Kenapa saya ingin menjadi ABRI, jawabnya simpel aja, saya tuh gak mau pusing2 cari duit…usaha ini usaha itu…rasanya cukuplah hidup mengandalkan gaji perwira ABRI saja. Nah setelah gagal itulah baru kepikiran, mau jadi apa…..

Atas pertanyaan pak Cheema, ini panggilan saya kepada beliau sedangkan orang lain biasa dengan sebutan tuan, yang diajukan malam itu, segera saja saya menjawabnya dengan tegas, “Saya mau jadi orang kaya pak”.
Mendengar ini kontan beliau tertawa terkekeh disusul oleh derai tawa pak Zafrullah Nasir dan pak Basyiruddin. Belum selelsai mereka dengan tawanya, saya susul dengan penjelasan, “Saya gak mau miskin, karena miskin itu dekat dengan kekufuran, kata suatu riwayat, gak kebayang kan udah miskin didunia…eh nanti diakherat kelak masuk neraka lagi…kapan enaknya kalau gitu…lagipula kalau orang miskin bikin dosa itu kebanyakan karena kepepet, nekat dan sadar…daripada gak makan, katanya, kalau orang kaya mah bikin dosa biasanya karena lupa diri, terlena dan lengah atau kena bujuk rayu…jadi rada mendinganlah gitu…hehe”, eh…tawa beliau-beliau ini makin menjadi.

Saya lanjut dengan alasan kedua, “Ada riwayat lain, suatu ketika datang serombongan orang miskin kehadapan Rasulullah saw, mereka berkata, ya Rasulullah kami ini iri dengan orang2 kaya, kenapa, tanya Rasulullah saw, orang2 kaya itu selain shalat juga bersedekah, sedangkan kami adalah yang menerima sedekahnya, jadi maunya apa, tanya Rasulullah saw, ajarilah kami suatu amalan yang nilainya sama dengan sedekahnya orang kaya itu…maka Rasulullah saw mengajari mereka, setelah selesai shalat, bacalah subahanallah sebanyak 33 kali, alhamdulillah 33 kali dan Allahu akbar 34 kali, niscaya amalan engkau ini sama dengan sedekahnya orang kaya itu…..beberapa hari kemudian datang kembali orang2 mskin tersebut, ya Rasulullah ternyata kini mereka tahu amalan tersebut dan mereka juga mengamalkannya seperti kami, begitu adu mereka, Rasulullah saw menjawab, orang kaya yang seperti inilah yang disukai Allah…nah pak Cheema, saya ingin menjadi orang kaya yang seperti itu”,….

Sebetulnya pertanyaan dan jawaban ini dulu tahun 1981 sudah sering saya diskusikan kepada beberapa mubaligh, tetapi saya tetap merasa kurang puas, daripada capek mikirin ya sudah saya pendam dan diamkan saja selama ini, saya yakin suatu saat nanti Dia akan memberi jawabnya.

Mendengar penjelasan saya yang kedua ini, pak Cheema berkata, “Tuan Basyiruddin, kasih nasehat Mubarik”. Kemudian Mln.Basyiruddin mengucapkan, “Allahumma ahyiini miskiina wa amni miskiina wahsirni fi zumrotil masakiini yaumal qiyamah, ketahuilah Rasulullah saw senantiasa membaca doa ini”, saya cepat merespon, “Artinya?”. “Ya Allah berilah hamba hidup dalam kemiskinan, wafatkan dalam keadaan miskin dan bangkitkan nanti dihari kenudian dari antara orang2 miskin”. demikian Mln.Basyiruddin menjelaskan.
Mendengar ini saya ‘penasaran’ sekali, permohonan saya selanjutnya untuk ‘menggali’ lebih dalam nasehat ini tidak dikabulkan karena memang hari sudah larut malam.

(bersambung)

Leave a Comment

Filed under Thoughts

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s