Hari itu, Jumat tanggal 6 Oktober 2006, mendekati saat shalat Jumat, kembali saya melihat SMS yang dikirim oleh dr.Wahyono Rahardjo (74), beliau adalah seorang Penghayat Kepercayaan dan Ketua Badan Koordinasi Organisasi2 Kepercayaan (BKOK) yang tersebar diseluruh Indonesia dan juga beberapa negara lainnya, selain itu beliau juga kami minta untuk menjadi Ketua BPKBB, Badan Perjuangan Kebebasan Beragama dan Berkepercayaan, yang anggotanya terdiri dari berbagai macam agama, aliran dan tokoh2, diantaranya Prof.Dr.Dawam Rahardjo, Bismark Siregar, Prof.Dr.Jalaludin Rahmat, Pdt.Dr.Chevrolet Lumban Toruan Sihombing, J.H.Lamardy (tokoh Ahmadiyah) dan masih banyak lagi.
Bunyi SMS tersebut sebagai berikut, “Undangan buka puasa bersama BPKBB, Jumat, 6 Oktober 2006 pk.17.00 di rumahnya Pdt.Chevrolet jalan……”.
Sudah yang keberapa kalinya saya membaca SMS tersebut….bayangkan undangan buka puasa bersama yang diadakan oleh seorang Pendeta Nasrani, dirumahnya lagi, saya hanya mampu mengucap, Subhanallah….
Disaat begitu maraknya kebencian antar sesama umat Islam, yang ditandai dengan penyerangan Kampus Mubarak milik Jemaat Ahmadiyah Indonesia tahun 2005 lalu, kasus Yusman Roy, kasus penyerangan dan perusakan tempat tinggal Ahmadiyah dan Pesantren Salafiyah di Lombok, kasus penyerangan dan persidangan Kelompok Eden, belum lagi kasus-kasus penutupan paksa Gereja yang dilakukan sekelompok umat yang mengatas namakan Islam di Bandung dan Bekasi…..sungguh, undangan buka puasa bersama yang dilakukan oleh seorang Pendeta Nasrani bagi para tamunya yang kebanyakan muslim adalah suatu keajaiban, bagaikan oase yang menyejukkan ditengah gurun pasir. Hanya Tuhanlah yang mampu menggerakkan hati orang tersebut. Masya Allah…..
Saya terkenang suatu kisah yang meriwayatkan mengenai hubungan mesra yang terjalin tatkala Rasulullah saw menerima kunjungan beberapa orang Nasrani dirumah beliau, dimana pada waktu itu beliau mempersilahkan para tamunya untuk melaksanakan ibadah dirumahnya.
Banyak yang hadir dalam acara buka puasa tersebut, diantaranya adalah kang Jalal, www.jalal-center.com, beliau adalah Ketua IJABI. Ada kejadian menarik setelah selesai berbuka puasa dengan makanan ringan yang manis (tajil), ternyata tuan rumah, Pdt.Dr.Chevrolet telah menyulap satu kamarnya menjadi sebuah mushala kecil yang cukup menampung seluruh undangan untuk shalat berjamaah (bagi yang muslim tentunya).
Karena memang diantara kita telah terbina hubungan yang sedemikian akrabnya, maka spontan saya nyeletuk, “hayo siapa yang mau sholat berjamaah, ditunggu”. Saya tahu sekali bahwa seorang Ahmadi tidak diperkenankan untuk bermakmum dibelakang seorang non Ahmadi, dan biasanya teman2 IJABI pun, setahu saya, sholat Maghrib dan Isya biasa di jama takhir agak malam sedikit, sekitar pk.21.00-22.00. Nah seorang wanita anggota IJABI, sebut saja namanya Eraz M.Eng, dengan gaya yang juga spontan berkata cukup keras karena semua hadirin dapat mendengarnya, “Mubarik yang jadi imam sholatnya ya, kita semua mau mendengar bacaan surahnya, bagus apa tidak dan nanti saya minta agar kang Jalal menjadi makmum”.
Keruan muka saya merah (kali ya) dengan sedikit rasa malu mendengarnya, maka jadilah saya menjadi imam sholat Magrib yang dijama dengan Isya dengan salah seorang makmumnya adalah kang Jalal. Terus terang saya merasa kikuk sekali, dalam hati, “sialan neh gw dikerjain sama Eraz hehehe…”, kenapa…karena dibanding dengan beliau apalah artinya saya ini, pengetahuan beliau itu begitu luas, boleh dibilang beliau adalah laksana guru bagi saya, tetapi menghadapi keadaan seperti itu, beliau begitu arif dan bijaksananya serta mau memahami ‘kebiasaan’ para AhamdiMuslim yang ‘tidak biasa’ bermakmum dibelakang seorang non Ahmadi.
Selesai sholat beberapa teman memberi komentar yang lalu buru-buru saya menjawabnya; “Jadi imam sholat itu ibarat supir, tadi barusan saya disuruh ‘menyopiri’ kang Jalal, yah keluar keringat dingin deh hehehe….”.
Malam itu sungguh menjadi malam yang luar biasa bagi saya seorang yang sangat lemah dalam ilmu pengetahuan, miskin rohani dan jasmani, malam itu Dia banyak memberi ‘pelajaran’ berharga kepada saya, sungguh saya merasa beruntung dapat menghadiri acara berbuka puasa dirumah Pdt.Dr.Chevrolet Lumban Toruan Sihombing.
Slipi, Jakarta.



wow hari yang cerah..
malam yang indah…
hidup penuh cinta damai.. piss
kerukunan itu bukan hal aneh ko didaerah saya, yang jadi masalah kan mengajak umat yang sudah beragama untuk pindah agama (dan itu yang jadi biang kerusuhan)
kita tau jika satu daerah muslimnya mayoritas, kerusuhaan berbau sara tidak terlalu besar boleh dibilang cuma riak-riak aja.
coba kita bandingkan di Ambon, poso (berapa ribu yang meninggal)
knapa yah mas sesama muslim tapi ko berjamaahnya pilih-pilih, berarti emang ahmadi berbeda dengan muslim yang lainnya yah.
ngajak pindah kok jadi biang kerusuhan?? lha wong tinggal ditolak aja beres kok..
yang biang rusuh itu, yang merasa sakit hati kalo melihat ada orang yang mau ikut diajak pindah.. hehehe..
coba dulu mbah-mbah kita gak ada yang ngajak pindah.. mungkin sekarang kita masih beragama hindu atau malah animis.. hmm..
soal kerusuhan sara, di tempat yang mayoritas agama tertentu ya gak rame lah.. lha wong yang minoritas mau gak mau harus ngalah kok..
berani ngelawan apa nggak malah dipithes sekalian??
soal ahmadiyah, silakan ahmadiyah mau beda dengan muslim yang lain, asal mereka tidak membakar masjid kita, tidak minta sama pemerintah supaya melarang kita beribadah, tidak mentungin kepala kita, dan mau hidup rukun bertetangga, ya biarin aja.. gitu aja kok repot..
salam rukun! hehehe..
Wah indah dan sejuk sekali membaca acara buka bersama ini. Senag mendengarnya. Mudah-mudah kebiasaan ini bisa makin meluas di negri kita Indonesia.
Salam kenal mas Mubarik. Silahkan mapir di blog saya http://gagasanmelintas.blogspot.com/.
atau http://pelangiadyacitra.blogspot.com/