Slipi, Jakarta pk.19.00 wib.
Sudah dua hari ini kedua pembantu dirumah pulang kedaerahnya masing-masing, satu ke Lampung satunya lagi ke Jateng.
Saya kasihan melihat isteri sibuk bekerja dirumah, lebih kasihan lagi melihat ‘nasib’ anak2….dibanding zaman gw dulu, biasanya liburan menjelang Lebaran amat dinanti, karena itu berarti pulang kampung kerumah Kakek di Gondrong sana, hari-hari bisa ‘ngangon’ kebo, cari jangkrik malam2 sepulang tarawih, siangnya mandi2 disungai, sambil mancing ikan cecere dan rasanya gak kurang tuh kesibukan menjelang Lebaran….termasuk juga bantuin ngaduk dodol ala Betawi yang pake kuali gede banget…atau numbuk uli pake wadah khusus yang sengaja dibuat dari janur kelapa….
Anak2 zaman sekarang selalu mengisi kesibukan liburannya didepan Komputer main internet, bikin testimony buat FS atau main PS2….diajak jalan2 keluar kota? Sami mawon, mereka lebih senang didalam kamar hotel….sambil lagi2 main PS2….kesel deh.
Nah timbul iseng gw, untuk ngajarin mereka bikin ketupat….setengah dipaksa anak gw yang nomor dua gw ajak naik motor ke Pasar Slipi untuk beli janur kuning, awalnya ogah2an…yah udah gw ‘towel’ aja tuh tombol reset PS2nya hehehe….
Akhirnya jadi jugalah kita berdua beli itu Janur, harganya sepuluh batang Rp.1500,00 sedangkan yang sudah berbentuk ketupat 10 bijinya Rp.3000,00.
Sesampainya di rumah, gw ajarin mereka termasuk ibunya bagaimana membuat ketupat….wah gak disangka, mereka rupanya tertarik sekali dan dengan gembira berebutan minta diajarin dan berkali-kali mereka mencoba….memang ada dua macam model ketupat, yang satu model bawang yang satunya lagi model segi empat…kedua-duanya dengan antusias mereka pelajari….
Gak berapa lama selesailah 30 puluh biji ketupat…emang seh gw yang paling banyak bikinnya hehehe….
Dengan petunjuk gw (tentunya), Nabil, Kelas 1 SMU, sibuk mempersiapkan kompor minyak tanah, maklum boros banget kalau pake LPG, pinjam panci besar ketetangga depan rumah, sementara anak yang kedua si Khalid, kelas 6 SD, sibuk mencuci beras, rupanya dia sudah pintar menakar berapa banyak kira2 beras yang diperlukan nantinya….
Setelah menyalakan kompor (yang bisa nyalain cuma gw doang hehe) serta diatasnya ditaruh panci besar yang telah diisi dengan air, maka kesibukan kami bertiga adalah mengisi ketupat dengan beras yang telah dicuci bersih, “hati2 jangan terlalu sedikit ngisinya nanti jadinya lembek juga jangan terlalu banyak nanti gak enak dimakannya, isi kira2 2/3nya aja”, begitu petunjuk gw kepada mereka berdua.
Nabil begitu gembira, sampai2 dia ingin buru-buru mengisi Blognya tuh, bagaimana cara membuat ketupat, “ini baru Lebaran neh….kerasa bener karena bikin ketupat….hehehe”, begitu dia bilang.
Sekarang kami sedang menunggu ketupat itu matang….masih 2 jam lagi, lama memang, agar tahan disimpan nantinya.
Saya bersyukur karena masih bisa mengkhidmati anak2 dan keluarga walaupun bukan dengan materi yang berlimpah, sejak dari dulu anak2 saya tidak pernah minta dibelikan baju atau sepatu baru untuk Lebaran….saya jadi teringat dengan ibu yang begitu saya cintai, beliau dulu selalu mampu membelikan baju dan sepatu baru buat ke enam (6 loh) anak2nya menjelang Lebaran, saya tahu walaupun untuk itu ibu membanting tulang bekerja keras, karena gaji seorang guru ditambah gaji seorang pangkat rendahan Polisi tidaklah cukup memadai, saya menaruh rasa hormat yang khusus kepada bapak karena beliau tidak pernah mau mencari penghasilan tambahan dengan mempergunakan pakaian dinasnya, masya Allah, untuk itu saya ingin kelak agar anak2 saya bisa hidup dalam kesederhanaan tanpa perlu sepatu baru atau baju baru Lebaran dan saya bersyukur Allah tidak menjadikan saya kaya raya. Alhamdulillah.
Saya selalu ingat dengan doa yang diajarkan salah seorang sahabat sekaligus guru yang saya hormati dan senantiasa saya baca karena Rasulullah saw pun membacanya setiap hari, ALLAHUMMA AHYINI MISKIINAN WA AMNI MISKIINAN WAHSIRNI FI ZUMROTIL MASAKIINI YAUMAL QIYAMAH.
Salam, Mubarik.
“Happy Eid Mubarak 1427H”.



Wah bagus juga blog ini, jangan lupa pasang juga Tabligh Meter semoga bermanfaat