Perjalanan kali ini adalah perjalanan bisnis dengan waktu yang cukup.
Cukup disini artinya ya cukup buat bekerja dan cukup juga waktunya untuk sight-seeing. Gak kebayang kalau bepergian jauh, melulu hanya untuk bekerja…capek deh…kata anak2 muda sekarang
Berangkat Rabu 17 November 2010, pk.23.30 dari Bandara SUTTA menggunakan penerbangan Garuda karena hanya Garuda lah yang langsung terbang ke Seoul setiap harinya tanpa singgah di Singapore atau Hongkong atau Bangkok. waktu tempuh sekitar 6-7 jam tiba di Seoul.
Tiba di Incheon International Airport masih pagi, cepat2 keluar Bandara karena harus mengejar penerbangan domestik ke Busan pakai Korean Airlines di Gempo Airport yang berjarak tempuh sekitar 20 menit dari Incheon dengan menggunakan Limousine, yang ternyata adalah layanan shuttle bus (namanya doang yang keren LIMOUSINE bro hehe). Dalam hati sedikit ngedumel dan mau marah nanti kalau jumpa orang dari Perusahaan di Korea sini yang mengatur kedatangan kami. Masa sih gak bisa diatur connecting-flight…parah…pagi2 dah bikin orang ‘rush’ dan deg2an takut ketinggalan pesawat.
Sempat menukar uang dollar sebanyak 100USD, karena biasanya kurs di Bandara sedikit agak mahal, saya dapet sekitar 110.000,00KW dan beberapa kerincing uang logam Korea Selatan. Saya pikir nanti gampang nukar dollar di downtown di Busan yang kursnya saya rasa lebih baik. Kebiasaan hemat atau ngirit ya hehe… Eh gak tahunya susah cari tempat2 money-changer selama di Busan. Kepaksa deh narik pake global-ATM (yang untungnya ada isinya tuh save-account gw di BCA/Mandiri). Kalau nggak bisa gawat… Dalam hati pasti nih di-kurs gila2an sama BCA dan Mandiri nanti. Bayar ‘Limousine’ seorang cuma 1000KW, kira2 sepuluhribu uang kita. Busnya lebih baik dan lebih bersih dari bus DAMRI kita…ya pastilah
Ok, saya skip aja ya ‘tetek-bengek’ urusan bisnis, lagian kagak ada menariknya kalo diceritain juga, apalagi bagi sebagian teman mungkin akan bilang, EGP.
Setelah dijemput pake mobil perusahaan bermerk Hyundai, kami diajak santap siang di sebuah restoran Tradisional Korea didaerah Nampo-Dong, pusat bisnis Busan. Gak ada yang spesipik yang patut diceritakan mengenai makanan Korean, semua ada di Jakarta. Kecuali alat makannya, berupa sendok kecil panjang dan chop-stick gepeng, iya bener tuh sumpitnya dari logam dan gepeng pula, ampe susah makenya. Saya harus membiasakan diri memakainya kemudian, karena selalu pake itu kalau mau makan disemua tempat di Busan, bahkan sampai di kantin pabrik waktu kami dijamu disana.
Di Nampo-Dong inilah kami bolak-balik cari2 oleh2 dan bertemu dengan kawan2, sahabat2 baru TKI, pahlawan devisa kita, dan juga seorang musisi muda yang hidupnya tidak lepas dari temple.
Malam pertama, seperti yang biasa sering saya lakukan kalo menginap ditempat-tempat yang asig buat saya, yakni keliling ketempat-tempat disekitar hotel tempat menginap. Nggak disangka disepanjang lorong China-Town disekitar Busan Station, ada banyak bar-bar Rusia dengan seorang gadis Rusia berdiri didepan menawarkan kami untuk mampir menikmati vodka, minuman keras khas Rusia. Baru sadar bahwa Busan adalah kota pelabuhan, dimana nantinya kami jumpa dengan banyak ‘bule-bule’ yang disebut disini dengan ‘sea-man’, diantaranya dari Ukraina dan Greek.
Cuaca di Busan pada bulan November sedikit lebih hangat dibanding Seoul, antara 7-12 derajat celcius, saya jalan2 pake jacket ternyata keringetan juga, padahal dalemnya cuma pake kaos oblong doang.
Malam ke 2 karena kecapekan meeting, kami putuskan istirahat aja semaleman penuh di hotel sambil browsing di Business Lounge karena HP dan BlackBerry saya yang pake BIS XL gak bisa dipakai. Teman saya tanya2 mau beli SIM Card local, kagak ada yang ngerti….ternyata oh ternyata mereka pake system inject seperti CDMA atau AMPS zaman bedil sundut dulu di kita.
Sabtu setelah sarapan pagi, kami ‘acak-acak’ tuh Nampo-Dong.
Nah waktu lagi istirahat nongkrong di Plaza Lotte Department Store sambil nonton pertunjukan air muncrat eh air turun, karena banyak turunnya, saya bertemu dengan seorang berwajah khas, Indonesia bgt, saya lempar senyum sambil berkata, “Dari Indonesia ya…”. Orang itu membalas senyum saya dengan ramah dan menghampiri saya. Singkatnya kami berkenalan, dia bilang bekerja di Korea sebagai TKI dengan gaji sebulannya 1.450.000KW bersih. Itu take-home-pay, artinya makan dan tidur disediakan oleh perusahaan tempat mereka bekerja, gak ada pengeluaran lain dan telah dipotong pajak. Sungguh ironis, sementara teman2 mereka diperusahaan yang sama di Bekasi Indonesia hanya digaji UMR doang.
Sebelum bertemu dengan teman TKI tersebut, pagi itu dari hotel kami berjalan kaki menuju Tower of Busan atau Busan Tower yang kelihatan jelas dari tempat kami menginap dengan waktu tempuh gak sampe 15 menit, itupun karena brenti2 ambil gambar disepanjang jalan.
Busan Tower ini adalah Land Mark kota Busan, kebanggan semua warga kota. wisatawan asing maupun domestik pasti menyempat diri berkunjung kesini. Letaknya diatas bukit, cukup membuat ngos2an bagi yang jarang ber olah-raga, untungnya saya udah rutin gowes setiap pagi 40km hehe… Benar Busan kotanya ber-bukit2. Hotel Commodore tempat kami menginap juga berada disebuah bukit, kalau turun jalan kaki dari hotel enak, nah baliknya itu…keringetan…akhirnya setiap kembali ke hotel kami naik taxi, cuma 3000an Won, murah…dari pada keringetan….
Pengen tahu Busan Tower? Googling aja sendiri ya….gak usah diceritain disini, kepanjangan entar
Setelah puas ambil gambar sambil narsis kayak di photo ini,
Kami menuruni anak tangga kompleks Busan, yang naik enak pake escalator, dibawah Busan Tower adalah Nampo-Dong, downtownnya Busan yang sangat terkenal…googling lagi ya kalo kepengen tahu tentang Nampo-Dong atau Nampodong.
Di tengah-tengah anak tangga, setelah deretan tangga pertama, disebelah kiri kami lihat ada patung Budha yang cukup besar, kawan saya segera saja bersiap untuk sembahyang. Agak unik caranya bersembahyang, karena didahului dengan bertepuk tangan dan menjentikkan ujung kedua jari telunjuk dan jempol yang saling disilangkan. Belakang saya tanyakan kawan saya itu penganut Budha Tibet. Memang ada beberapa aliran/sekte agama Budha. Di Indonesia saya mengenal Hinayana dan Mahayana. Kawan seperjalanan saya ini cukup agamis, karena selalu menyempatkan untuk sembahyang setiap bertemu kuil Budha, gambar atau Budha.
Disebelah kanannya ternyata ada Kuil Budha, Meta Temple. Belum lama kami disini untuk megambil gambar, tiba2 seorang Pendeta keluar sambil membawa sejenis kentongan kecil, dia memukul-mukul kentongan itu sambil berbicara dalam bahasa Korea yang tentu saja tidak kami fahami. Seorang anak muda berambit panjang yang dicat pirang yang juga keluar dari pintu yang sama menghampiri dan seolah mengerti kebingungan kami. Dia bilang ini waktunya makan siang, silahkan masuk untuk menikmati makan siang bersama. Anak muda itu kemudian kami kenal dengan nama Wonseok,
Dengan sedikit rikuh, kami mengikuti anak muda itu yang ternyata malah naik undakan tangga keatas. Ternyata diatas sedang berlangsung ceramah dari seorang Pendeta yang sangat terkenal di Korea. Saya melihat cukup banyak yang hadir. Kawan saya segera saja sembahyang lagi, kemudian sembahyang kearah pendeta yang sedang ceramah. Setelah ngobrol yang dilakukan dengan cara bisik2, kami diantar masuk ke ruang makan Meta temple, ada 3 buah meja panjang disitu. Saya disuruh maju ke dapur untuk mengambil sendiri nasi, yang kenudian piring kami diisi dengan makanan khas Korea tapi tidak berdaging oleh petugas dapur. Semua makanan yang disajikan di Meta temple disediakan cuma-cuma alias gratis….luar biasa…. Saya teringat ke suatu tempat nun jauh di selatan P. Jawa di dekat Pelabuhan Ratu. Waktu kami berkunjung ke Abah Anom sudah agak malem, ternyata kami diminta untuk menyantap makanan panas yang baru saja dimasak sengaja untuk kami. Ada banyak orang baik di dunia ini yang mau berbagi makanannya.
Wonseok dengan ramah bercerita banyak mengenai dirinya, dia sedang belajar musik di suatu universitas di Busan, dimana ada juga beberapa mahasiswa asal Indonesia yang kuliah disana. Diayangkan oleh dia, kalau tahu lebih awal mungkin dia bisa menemani keliling Busam, mengunjungi tempat2 menarik. Dia berpesan jangan lupa untuk segera meng-upload photo2 dan juga meng-add nya di facebook
Terus terang saya amat terkesan dengan pelayanan Meta temple, tidak ada terlihat sedikitpun upaya untuk mengenalkan ajaran2 Budha kpd para tamu, tidak ditemukan brosur2, atau buku2 gratis mengenai ajaran2 Budha. Mereka benar2 Men of God, hidup mengabdi kepada Tuhan dan tidak terbersit secuilpun untuk menyinggung perasaan apalagi menyakiti orang lain. Mereka orang2 yang mencintai dan mengutamakan kedamaian.
Kami pamit dan menuruni undakan anak tangga kedua menuju Nampo-Dong. Pasar atau pusat keramaian ini benar2 ramai Sabtu siang itu, apalagi menjelang malam. Banyak orang berdatangan mencari hiburan kesini. Disini saya ubek2 mencari sepatu pesanan kedua buah hati saya, sayang tidak satupun ada yang menjualnya. Akhirnya malah saya sendiri yang membeli sepatu Dr. Marten’s, hampir 17 tahun sejak sepatu ‘DocMart’ Boots milik saya pertama beli San Fransisco USA tahun 1993 dan ditahun yang sama di Jakarta, DocMart ‘brongsong’.
Kawan saya sejak pertama ingin mencicipi makanan Korean yang dipanggang. Sudah bosen makan makanan Korea yang begitu2 aja, semangkuk kecil nasi, semangkuk sup, semangkuk sayuran, lauk dan kimchi. Teman TKI yang baru kami kenal di Lotte Dept. Store itu dengan sigap mengatakan ada dekat2 sini yakni di Jagalchi Fish Market, gak sampe 5 menit kami sudah tiba disana. Di Jagalchi Fish Market ini dijual berbagai macam jenis ikan, termasuk Octopus hidup dan berbagai macam ikan yang sudah dikeringkan/ikan asin. Saya lupa nama restorannya, karena gak penting, yang penting isi yang ditawarkan hehe…. Dengan hanya membayar 12.000KW, kami bebas memilih berbagai macam ikan, daging, sayuran dan minuman manis dari beras khas Korea, sepuasnya. Disinilah kami bertemu dengan 3 kawan TKI lainnya yang satu pabrik dengan kawan pertama yang dikenal di Lotte. Disebelah meja kami terlihat serombongan ‘bule’ yang setelah saya tanya mengaku berasal dari Greek, sea-man.
Tidak terasa hari beranjak gelap ketika kami selesai makan, Nampo-Dong benar2 ramai dikunjungi orang. Pedagang makanan jalanan berderet rapih sepanjang jalan2 dan lorong2 Nampo-Dong. Kami mencoba antri merasakan semacam kue yang digoreng kemudian diiris tengahnya dan diisi dengan kacang2an, rasanya panas2 gurih nikmat, apalagi udara dingin mulai terasa.
Cukup lama kami ngobrol dengan sahabat2 baru ini. Ada yang sudah lebih dari 15 tahun jadi Guru SMA, puluhan kali ikut test PNS gak lulus2, akhirnya dengan berat hati diputuskan ikut test kerja ke Korea. Ada yang dari Bandung. Mereka semua terpelajar dan tentu saja melek internet, masing2 punya akun facebook, yang semuanya sudah di add jadi kawan facebook saya
Malam itu kami berpisah dengan sahabat2 baru kami, mereka kembali ke asrama yang disediakan perusahaan dan saya berdua kembali ke hotel, dengan taxi karena sudah cape dan perjalanan balik pastinya menanjak yang cukup bikin pegal kaki.
Keesokan harinya, karena penasaran saya coba cari pesanan kedua anak saya yang lengkap memberikan alamatnya segala, yakni di Centum City dan Haeundae Beach. Sementara kawan saya penasaran cari2 ‘Fresh Ginseng’ yang akhirnya didapat di Lotte Dept. Store Centum City seharga 500.000,00KW untuk satu paket berisi 11 buah umbi segar Ginseng. Dengan menggunakan kereta bawah tanah, Subway/Tube seperti di London kami berangkat dari satsiun Busan. Metro di Busan amat simple hanya terdapat 3 lane jalur Metro/Subway di Busan, beda dengan London yang dibagi-bagi dalam beberapa Zone dari 1 sampai 7 karena banyak jalurnya dan luas cakupannya. Pesanan sepatu tidak dapat ditemukan dikedua tempat itu. Selain sepatu anak tertua saya juga minta oleh2 iRig, , teman untuk Bass Guitar Electricnya, iPod dan Mac Book Pronya. Payah nih emang negeri, bukan tempat buat belanja, masih jauh lebih enak beli2 sesuatu di Jakarta ‘nu serba aya’, ceuk urang Sunda mah.
Di Haeundae Beach tidak banyak yang dilakukan, semua orang berpakaian tebal karena dinginnya udara. Kalau lihat2 hasil photonya akan nampak lucu, dipantai kok pake baju tebal2 hehehe…. Disini ada semacam anjungan tempat berphoto/video yang bisa merekam dan dapat langsung dikirim ke alamat email, gratis. Saya mencoba berpose dan mengirimkannya kep email isteri. Belakangan dalam emailnya, Isteri saya bilang, baru aja nonton NGC yang menayangkan serombongan remaja Jepang asyik menggunakan alat baru tersebut yang banyak dipasang di Jepang.
Eh ada satu hal, sepeda tidak begitu digemari orang Korea, hanya ada satu dua yang memakainya, itu pun kwalitasnya tidak bagus, tidak seperti sepeda yang sliweran waktu CFD di Thanrin-Sudirman setiap Minggu pagi. Saya coba cari toko Sepeda, kecewa, berharap menemukan accesoris ‘canggih’ ternyata jauh lebih lengkap di Jakarta. HP atau BlackBerry? Jangan tanya, tidak ada satupun yang pake gadget canggih seperti orang Jakarta
, memang semua touch screen mirip Samsung Android yang saya pake, tapi merknya saya tidak kenal. Mobil2 yang ada dijalan raya boleh dibilang 99% buatan Korea.
Mungkin saya akan kembali ke Korea mengajak isteri pada saat musim salju, karena pemandangan terlihat lebih exotic seperti yang terlihat di facebook kawan baru saya yang sudah 2 tahun bekerja disana.
Gambar lebih banyak bisa di klik disini









