Saturday, March 15, 2008

Ziaroh ke Pasarean Makam Pendiri NU KH. Hasyim Asy’ari dan Silaturohim dengan Gus Sholah

dsc_2174.jpg

Rabu pagi pk. 10.20, 12 Maret 2008 pesawat Batavia Air yang dijadwalkan berangkat pkl.08.20 baru saja lepas landas dari Bandara Sukarno-Hatta menuju Surabaya. Selain Amir JAI KH. Abdul Basit, ikut pula mengiringi perjalanan ziaroh pertama kali ini yaitu; Anwar Said Sekr. Umur Khorijiah, Abdul Qoyum Sekr. Audio Video dan penulis (Mubarik Ahmad) rombongan Ahmadiyah ini ditemani oleh seorang intelektual muda NU, Zuhaeri Misrawi yang akrab disapa Gus Mis. Ikut juga seorang crew kameramen MTA, A. Wahid yang berangkat lebih dahulu menggunakan pesawat Sriwijaya Air. Tiba di Surabaya pk. 11.40, ikut menyambut di pintu keluar Airport, Mubwil Jatim Mln. Maksum, Sekr. Tabligh Abdul Rozak, Tarko Ahmadi, Umar Farouk, Suwidji dan anaknya Arief, Nur Iskandar dan beberapa khudam, sebagian dari mereka ikut menyertai ziaroh ke Jombang.

Kami tiba di Pasarean Makam KH. Hasyim Asy’ari pk. 15.20, rupanya teman2 Media dari SCTV, RCTI, Trans TV dan Lativi sudah sejak pagi menunggu kedatangan rombongan Amir JAI. Setelah selesai berdo’a dikompleks makam tersebut dilanjutkan dengan sholat Zuhur yang dijama’ dengan Asar dimasjid milik Ponpes Tebu Ireng yang kini sedang dibangun dan diperluas. Gus Sholah menerima rombongan pk. 16.25 dan beramah tamah selama lebih kurang 1 jam lamanya.

“Wah ini senior saya…”, spontan Gus Sholah menyapa pak Qoyum terlebih dahulu. Dengan senyum gembira kedua orang yang bersahabat sejak masih mahasiswa di ITB ini bersalaman dan berpelukan. Selain dengan pak Qoyum, Gus Sholah juga mengenal dengan baik kang Uung (Mansyur Ahmad putra Mln. Malik Ahmad Khan) keduanya adalah anggota WANADRI dan juga dengan ibu Amatul Qoyum (adik alm. Khalid Qoyum) karena mereka dulu pernah bertetangga di Kwitang Jakarta.

Ternyata keluarga KH. Wahid Hasyim ini memiliki teman dari kalangan Ahmadi, Gus Dur adalah teman sekolahnya da Kholil (kakak Muawar Azis, SH) dan Gus Im adalah teman main Mumu Pontoh. Begitu informasi yang saya dapat.

Dalam kesempatan silaturohim tersebut Amir mengundang Gus Sholah untuk bisa ikut hadir dalam Perayaan Seabad Khilafat yang berbarengan dengan Jalsa Salanah di London pada bulan Juli 2008. Undangan tersebut diterima dan disambut dengan baik oleh Gus Sholah yang akan mengatur dan mengagendakan acaranya untuk bisa hadir di London Juli nanti.

Tepat pk. 17.40 rombongan kembali ke Surabaya langsung menuju tempat menginap yang telah disediakan oleh teman pak Qoyum, sebuah rumah yang cukup bagus dan mewah terletak persis didepan Carrefour.

Keesokan paginya kami sempat menonton bersama berita SCTV yang menayangkan ziaroh dan kunjungan ke Posnpes Tebu Ireng, cukup lama tayangan pemberitaan itu, memang satu hari sebelumnya saya menelpon langsung sdr. Hansen Kepala Biro SCTV Jawa Timur tentang kunjungan Amir ini dan juga beberapa TV lainnya. Tepat pk.08.00 rombongan berangkat ke Madura, kali ini tanpa pak Qoyum yang telah kembali ke Jakarta. Eh gak dinyana dalam perjalanan menuju Bangkalan ini, mobil kami disalip oleh mobil sport Mercedes Benz SLK500. Wah ternyata orang Madura gak kalah dengan orang Jakarta. Kami tiba di Pasarean makam Syaikuna Kholil di Bangkalan Madura pk. 10.17. Rombongan JAI yang dipimpin oleh Amir berdo’a dimakam tersebut. Setelah beristirahat diwarung yang terletak persis didepan Makam Mbah Kholil, rombongan kembali menyeberang menggunakan Ferry menuju Surabaya untuk melanjutkan ziaroh ke Makam Sunan Ampel (R. Ahmad Rahmatullah).

Menurut keterangan Gus Mis, Mbah Kholil adalah guru KH. Hasyim Asy’ari. Beliaulah yang memerintahkan Hasyim muda untuk membuat NU yang beliau ramalkan akan menjadi besar nanti. KH. Hasyim Asy’ari bejalan kaki dari Jombang ke Bangkalan Madura untuk belajar agama dengan KH. Kholil. Anehnya setibanya di petilasan Mbah Kholil, beliau tidak diajar apa2, hanya disuruh bersih-bersih sekitar rumah dan setelah beberapa hari disuruh pulang dengan perintah mendirikan NU. Konon katanya Mbah Kholil memiliki kemampuan mengajar yang luar biasa. Banyak orang yang datang kepada beliau tidak diajar apapun juga mengenai ilmu-ilmu Islam ataupun mengaji, banyak diantaranya yang hafiz Qur’an setelah berjumpa beliau.

“Itu ilmu Laduni namanya”, Gus Mis menjelaskan.

Pk. 12.15 rombongan tiba di Pasarean Makam Sunan Ampel. Kompleks pemakaman ini cukup luas dengan masjid yang besar dan telah berusia 5 abad. Banyak para peziarah berdatangan kesini dari pelosok tanah air. Pintu masuk ke kompleks makam dan masjid melalui lorong pasar yang meriah dengan aneka jualan khas Islam. banyak dijual pakaian muslim dan tentu saja kurma dari berbagai jenis.

Setelah meminta izin dengan petugas setempat kami berziarah ditemani oleh petugas yang ditunjuk. Kami dibolehkan mengambil gambar dan video dikompleks makam tersebut. Perjalanan ziaroh dimulai dari bangunan masjid yang megah dan terbuat dari kayu jati. Setelah itu langsung menuju makam Sunan Ampel. Dengan duduk bersila Amir beserta rombongan dengan khusu’ berdo’a didepan makam Sunan Ampel.

Setelah makan siang diwarung makan sederhana, saya sendiri menyantap cumi2 dengan nasi setengah piring plus semangkuk sup ikan Bandeng, rombongan melanjutkan perjalanan menuju arah Porong Sidoarjo untuk menyaksikan dari dekat musibah nasional yang dikenal dengan ‘Lumpur lapindo’ itu. Sungguh dahsyat musibah ini. Dari kejauhan dijalan menuju lokasi sudah terlihat tanggul penahan yang tingginya lebih dari 4 meter dari atas permukaan jalan. Setelah menaiki tanggul penahan, sejauh mata memandang hanya hamparan lumpur saja, tampak menyembul beberapa atap rumah yang telah tenggelam oleh lumpur panas itu. Kami menyewa ojek untuk dapat lebih dekat lagi kelokasi yang masih aktif megepulkan asap tebal, sepuluh ribu perak, cukup murah dan lumayan bagi para warga yang kini berubah profesi menjadi tukang ojek karena pabrik tempat mereka menggantungkan harapan telah tertimbun oleh lumpur ganas yang terus menerus keluar dari perut bumi.

Malam harinya tepat pk. 19.30 rombongan JAI menuju kantor pusat Jawa Pos Group. Setibanya disana kami disambut dengan tepukan meriah para jurnalis yang sedang sibuk mengejar deadline. Kami langsung diajak duduk ditengah-tengah ‘dapur’ Jawa Pos. Meja tamu berbentuk bundar dan terletak ditengah-tengah ruangan kantor sehingga kami dengan bebasnya dapat menyaksikan kesibukan para wartawan dalam menyusun berita untuk naik cetak tengah malam nanti.

Keesokan paginya rombongan kembali ke Jakarta sedangkan Amir melanjutkan perjalanan ke Makassar. Di Bandara kami bertemu dengan seorang anggota DPRRI yang kebetulan juga tokoh NU.

“Wah Ahmadiyah ternyata Ahlus Sunnah juga sama dengan NU”, spontan ucapan itu keluar setelah mendengar pejelasan Gus Mis mengenai maksud kedatangan Amir JAI beserta rombongan ke Jawa Timur ini.

Ide berziaroh ke Pendiri NU ini dikemukakan oleh Gus Mis sewaktu kami pergi ke Garut dalam rangka menggalang Aliansi Jawa Barat serta konsolidasi bantuan hukum dengan LBH Bandung 9 hari sebelumnya tepatnya hari Senin 3 Maret 2008. Ide ini langsung ditanggapi dengan serius oleh Sekr. Umur Khorijiah Anwar Said dan Sekr. Tabligh Abdul Rozak.

Saya hanya sekedar ‘manas-manasin’ aja agar ide ini segera terwujud.

Photo-photo perjalanan ziaroh dapat dilihat di http://mubarik.multiply.com

Slipi, Sabtu 15 maret 2008 pk. 10:10:20 pm

Sunday, March 2, 2008

“…mau kaya apa mau miskin?” part 2

Mln. Cheema dan saya

Besok paginya sehabis shalat Subuh, saya segera membaca Al Quran berserta terjamah dan tafsir singkat, setelah itu dengan masih rasa penasaran saya lanjutkan pertanyaan malam tadi.

“Pak Cheema sebagaimana biasa selesai shalat Subuh ada Daras, dalam kesempatan Daras dipagi ini saya kembali memohon agar dijelaskan kenapa Muhammad Rasululllah SAW senantiasa memanjatkan do’a seperti itu?”.

“Kan tadi Mubarik sudah membaca Quran, itu sudah cukup”, kata beliau.

“… tapi pak, saya ingin sekali mendengar penjelasan bapak mengenai do’a Rasulullah SAW ini”, desak saya.

Akhirnya beliau berkenan memberikan penjelasan.

Diakhirat nanti semua orang akan dihisab, orang-orang miskin yang mutaqqi akan melewati proses hisab ini dengan mudah dan cepat karena mereka selama hidup didunia dalam keadaan miskin, boleh dibilang tidak ada yang dihisab dan segera masuk kedalam Jannah. Sedangkan orang-orang kaya dihisab begitu rupa laksana memasukkan seekor Unta yang gemuk kedalam sebuah lobang jarum.

Kemudian beliau juga menjelaskan hal-hal lainnya berkenaan dengan keutamaan hidup dalam keadaan miskin ini.

Miskin disini bukanlah seperti yang difahami kebanyakan orang disini, miskin tidak sama dengan fakir. Miskin lebih kepada hidup dalam keadaan sederhana, tidak kurang dan juga tidak berkelimpahan. Orang-orang miskin adalah orang-orang mustahaq dalam pandangan Islam.

Sejak itu saya banyak mempelajari kemiskinan/kesederhanaan hidup Muhammad Rasulullah SAW dan para sahabatnya, Bagaimana Hadhrat Aisyah ra. tersedak dan bercucuran air mata karena sewaktu menikmati roti yang enak itu beliau teringat suaminya yang seumur hidupnya tidak pernah merasakan roti selezat seperti yang beliau sedang makan. Suatu pagi Rasulullah SAW bangun dari tidurnya dan beliau memeriksa bekal untuk hari itu, ternyata cukup, beliau merasa mendapat emas segunung.

Sering dipagi hari beliau tidak mendapatkan sarapan pagi yang terhidang, beliau berucap, hari ini saya niatkan untuk berpuasa.

Pernah beliau kedatangan tamu, beliau bertanya kepada isteri beliau apakah ada yang dapat dihidangkan untuk tamu itu? Hz. Aisyah menjawab, “Tidak ada ya Rasulullah”. Kemudian beliau menawarkan kepada para sahabat yang hadir siapakah yang dapat menjamu tamu ini. Seorang sahabat tampil seraya berkata, “YaRasulullah SAW dirumahku ada beberapa butir kurma”.

Hadhrat Sayidina Ali ra. disuatu pagi tidak mendapatkan apa-apa dimeja makan beliau, kemudian keluar rumah berjalan dan mendapati seorang Yahudi sedang menimba air, beliau ra. menawarkan untuk membantu yahdui tersebut. Akhirnya beliau diberikan beberapa butir Kurma sebagai upah. Dengan segera beliau bergegas pulanng kerumah untuk berbagi dengan isterinya Fatimah ra, ditengah jalan beliau teringat mertuanya dan mapir seraya mebagi dua bahagian kurma tersebut, setengah untu mertua beliau.

Hz. Abu Hurairah sering menahan rasa lapar, suatu ketika ada seorang yang berbaik hati mengantarkan segelas susu, dengan segera beliau sampaikan kepada Easulullah saw, susu yang cuma segelas itu diminta oleh Rasulullah SAW unuk dibagikan kepada seluruh ahabat yang sedang berada dimasjid. Kemudian Abu Hurairah membagikan susu tersebut, karena cukup banyak sahabat yang hadir pada saat itu, beliau ra. merasa khawatir takut tidak kebagian, akhirnya tibalah giliran beliau ra. yag dengan segera meminumnya, cuma sedikit karena khawatirRasulullah SAW akan kehabisan. Dengan bijaksana Rasulullah SAW mengatakan minumlah lagi. Terakhir barulah Rasulullah SAW meminumnya.

Kisah-kisah tersebut dan banyak lagi kisah-kisah lainnya sungguh membuat saya sangat terharu dan semakin kuat ingin mempraktekkannya dalam keseharian saya. Sampai kini do’a tersebut senantiasa saya baca dengan khusu’.

Do’a ini sebenarnya selalu saya padu dengan do’a nabi Isa ra. dalam surah Al Maidah yang saya baca terlebih dahulu, “Allahumma rabbana anzil alaina maa idatam minas samaai takuunu lanaa iidal li awwaliina wa akhirinna wa ayatam minka warzukna wa anta khoirur roziqiin”.

Do’a yang kedua ini saya dapatkan dari ibu Daniel, beliau bercerita pada tahun itu juga, tahun 1987 di Parung. Dulu beliau ingin sekali memiliki rumah sendiri bukan lagi rumah dinas, ada satu buah rumah yang pernah beliau lihat dan sangat ingin memiliki yang mirip seperti itu. Beliau banyak-banyak membaca do’a nabi Isa as. ini, alhamdulillah akhirnya beliau kesampaian memiliki rumah bahkan lebih bagus dari yang diinginkan.

Kedua do’a dari orang suci yang disayang Allah swt ini mewarnai seluruh kehidupan saya sejak itu, membuat saya berani mengarungi kehidupan dunia ini. Berani melamar dan kemudian menikah walau belum ada pekerjaan atau penghasilan tetap. Berani bergaul dengan banyak orang dari berbagai macam lapisan dan tingkatan.

Apapun yang saya peroleh didunia ini, saya selalu ingat untuk hidup dalam keadaan miskin.

Pada sekitar pertengahan tahun 90, pernah saya mendapatkan rezki tetap yang setiap bulannya pada saat itu sangat besar bagi ukuran saya, betapa susahnya saya ‘membelanjakan’ rezki tersebut.

Teringat terus bagaimana takutnya Hz. Umar ra., begitu besar rezki dan kelimpahan yang Allah berikan kepada beliau saat beliau menjadi Khalifah. Beliau takut jangan-jangan nanti habis sudah bekal beliau untuk diakhirat, habis dibagi didunia ini juga. Suatu hari disaat matahai menyenngat dengan panasnya, beliau sedang berjalan-jalan dan menjumpai seorang perempuan tua miskin yang sedang memotong daging bangkai seekor keledai, “Hai perempuan tua apakah engkau tidak tahu bahwa memakan bangkai itu haram hukumnya?”, hardik beliau. “Yang mulia, bagi engkau haram hukumnya memakan daging ini tetapi bagi halal”, jawab siperempuan tua. Beliau tersadar dan segera memerintahkan orang untuk segera mengambil daging segar dan memberikannya pada perempuan tua miskin itu. sejak itu beliau rajin berkeliling setiap malam dari satu rumah kerumah lainnya. Pernah suatu malam beiau menjumpai keluarga miskin yang anak-anaknya sedang menangis hingga terdengar sampai keluar rumah, beliau segara mendatangi dan mengintip dari celah dinding. Terlihatlah seorang janda tua yang sedang menjerang air diatas perapian, didalam panci itu beliau melihat hanya barisi batu, rupanya ibu anak-anak tersebut sedang membujuk anak-anaknya dengan pura-pura memasak sesuatu dan berharap anak-anak itu tertidur kelelahan menunggu makanan yang sedang direbus matang. Melihat ini dengan segera beliau kembali keistana, dengan siap dipanggulnya sendiri sekarung gandum yang kemdian diletakkan didepan pintu rumah mereka, diketuknya pintu tersebut searay cepat2 bersembunyi.

Ada banyak kisah-kisah yang seperti itu yang bertebaran dalam Hadits dan buku-buku lainnya.

Dulu saya harus pontang-panting mencari orang-orang mustahaq atas rezki saya tersebut, pernah saya mendatangi sekolah dari anak salah seorang sahabat untuk membayarkan SPP selama setahun penuh, mumpung ada duit pikir saya waktu itu. Pernah suatu ketika, seperti ada yang menggerakkan saya, segera saya siapkan uang dalam amplop dengan nilai yang cukup besar rasanya pada waktu itu. Bergegas saya ambil sepeda selesai shalat Subuh menuju masjid di Jl. Balikpapan. Benar saja. tanpa ada perjanjian sebelumnya, salah seorang sahabat sudah menunggu. Dia bersama keluarga sudah hampir seminggu tinggal di masjid tanpa saya ketahu. dengan segera saya raih tangannya dan amplop tersebut berpindah tangan. Saya tidak sanggup untuk berkata banyak, segera saya tinggal sahabat saya tersebut yang masih terbengong didepan pintu masjid.

Berkat dari do’a-do’a tersebut banyak sudah pengalaman hidup yang saya alami. Boleh dibilang, karena do’a nabi Isa lah saya dapat berkeliling dunia, lebih dari 7 kali ikut Jalsa di London. Tetapi sayang memang, pengabulan do’a ini hanya berupa Maidah atau Hidangan yang tidak mungkin untuk saya ‘bungkus’ dibawa pulang dan dibagi dengan yag lainnya. Sering dalam tahajud sewaktu Jalsa di London saya menangis karena merasa ada banyak sahabat yang rasanya lebih berhak mencicipi kelezatan hidangan ini. Boleh dikata seluruh impian saya bahkan lebih telah terpenuhi. Dulu sewaktu kecil saya membaca koran Berita Buana yang ada artikel kecil dipojok bawah berjudul Believe it or not, menyajikan keajaiban langka, orang tidak akan tenggelam jika berenang dilaut mati, akhirnya saya bisa merasakan berenang dilaut mati Jordania sepuasnya. Merasakan sendiri kedahsyatan Air Terjun Niagara, masuk kedalam Pyramide dan mengagumi Sphink di Mesir, Menikmati Paris dari ketinggan menara Eifel dlsbnya.

Dulu betapa susahnya meminjam mobil Jeep untuk bertabligh ke Banten, mobil L300 kesayangan PB yang kami pinjam sampai lebih dari sepuluh kali gagal melewati tanjakan tinggi berbatu yang licin karena tersiram hujan. Beberapa tahun setelah itu kami memiliki Land Rover Serie III Long Chasis kemudian Toyota Hardtop yang putih dan Silver, Nissan Patrol buatan tahun 1984 sampai yang tercanggih saat itu Jeep Cherokee brand new Tuhan sediakan untuk kemudahan kami bertabligh dan bersilaturahmi di Banten. Kemudian impian memiliki Land Rover Defender terpenuhi. Seluruh kendaraan itu hanyalah sekedar kendaraan yang mengantar kita pergi kemana-mana. Mln. Ghulam Wahyudin sewaktu mendengar saya akan menjual Jep Cherokee itu dan menggantinya dengan Land Rover Defender pernah berujar, “..kalau saja mobil ini bisa ngomong, dia akan protes karena dijual oleh pak Mubarik”. “Loh…emangnya kenapa?”, tanya saya. “Ya iyalah dia akan protes karena biasanya dipake untuk tabligh nanti oleh pemilik baru dipake ke buat DUGEM hehehe….”, kata beliau terkekeh…..

Itu baru sebagian kecil dari pengabulan do’a rasulllah SAW dan do’a nabi Isa as. Ada banyak lagi pengalaman yang tidak mungkin dishare dan dipaparkan dalam media yang terbatas ini…. (pegel ngetiknya tau hehehe…).

Kini saya hidup dengan penghasilan yang pas-pasan bahkan sering kurang, saya harus tega melihat kesusahan keluarga dan para sahabat saya. Saya teringat almarhum Ir. H. Syarif Ahmad Lubis Msc. yang hanya memanjatkan tangan berdo’a kepada Allah swt jika ada yang datang meminta pertolongan kepada beliau, kini saya mencoba meneladani beliau.

Dulu sewaktu saya hidup berkecukuan, pak Malik Mahbub pernah memarahi saya, “Mubarik jangan bersaing sama Tuhan”. Rupanya beliau mendengar saya tidak mampu menolak memberi selama saya punya. Memang pak Malik Mahbub sudah tidak mau lagi memberi pertolongan kepada sahabat tersebut. Kapok?? Entahlah….

Sering saya sengaja jalan kaki, jika motor Hyosung lagi dipake Nabil. Pernah saya jalan kaki berdua dengan pak JH. lamardy sepulangnya dari kantor LBH Jakarta, beliau berhenti di Bundaran HI lanjut dengan Bus, saya lanjut berjalan kaki sampai kerumah. Selesai menemani Amir meeting dengan bang Buyung di hotel Mahakam, saya jalan kaki kerumah lebih kurang 1 jam 15 menit lamanya, lumayan buat menghilangkan lemak sehabis makan buffet ditraktir pak Kandali disana hehehe…..

Kemarin sempat jalan kaki berdua dengan pak Anwar Said dari masjid Balikpapan, beliau berhenti di perempatan Tanah Abang saya lanjut jalan kaki kerumah dengan sepatu kets dan ransel dipundak….

Slipi, Minggu  2 Maret 2008 15:42

Sunday, November 12, 2006

“Le Banquier des Humbles”

Film dokumenter berdurasi 52 menit karya Amirul Arham ini menceritakan mengenai sosok Muhammad Yunus dengan Grameen Banknya di Bangladesh. Dia mendapat hadiah Nobel Perdamaian tahun 2006 mengalahkan SBY yang juga nominator untuk itu.

Le Banquier des Humbles dengan apik menceritakan bagaimana Grameen Bank bekerja. Dibuka dengan penjelasan Muhammad Yunus yang menjelaskan ketertarikannya membantu para wanita di Bangladesh untuk dapat keluar dari belenggu kemiskinan yang menjerat mereka selama bertahun-tahun. Sebagai seorang dosen yang mengajar ekonomi, dia merasa terpanggil untuk berbuat sesuatu guna menghilangkan kemiskinan itu.

Potret Desa Bangladesh.jpg banquier-1.jpg
Tergambarkan betapa miskinnya kehidupan mereka, dalam film itu diperlihatkan kehidupan sehari-hari desa-desa di Bangladesh. Nampak pemandangan orang yang sedang menganyam perkakas dari batang bambu, menjemur padi, mengambil air dari sumur dengan menggunakan timba “senggot”, yaitu timba yang menggunakan tali panjang yang ujungnya diikatkan ke sebuah batang bambu yang ditaruh sedemikian rupa sehingga bambu itu menyerupai timbangan dengan pemberat diujung satunya lagi, dalam memasak mereka juga masih menggunakan kayu sebagai bahan bakarnya dan perkakas yang seluruhnya terbuat dari tanah liat, persis seperti yang banyak kita saksikan dulu diera tahun 70an dihampir seluruh desa di pulau Jawa, yang membedakan mungkin hanya dari pakaian yang dikenakan, mereka nampak terlihat lebih meriah karena warni-warni mencolok kain yang mereka pakai.

Dengan menaiki sepeda, para pegawai Grameen Bank (GB) mendatangai calon-calon nasabah atau tepatnya kreditor yang hampir semuanya wanita, mereka melakukan riset sederhana berupa wawancara mengenai kebutuhan mereka dan kesanggupan mengembalikan pinjaman itu, tentu dengan cara mencicil. Kebanyakan diantara mereka setelah ditanya untuk apa pinjam uang, mengatakan uang yang didapat dari GB akan diberikan kepada suaminya karena mereka tidak tahu untuk dipakai usaha apa, beberapa dari mereka bahkan belum pernah memegang uang, urusan uang adalah urusan kaum lelaki, begitu katanya. Dengan sabar para pegawai GB mencoba menggali “potensi” mereka. Setelah yakin bahwa pinjaman uang tersebut akan dikelola langsung oleh para ibu tersebut barulah diberikan pinjamannya. Pemberian kredit ini begitu unik, karena diberikan begitu saja tanpa ada selembarpun kertas yang ditandatangani oleh para penerima, kemungkinan besar mereka itu buta huruf, pencatatan hanya dilakukan oleh para pegawai GB. Proses wawancaranyapun menarik, mereka line up antri disuatu ruangan kecil dihadapan seorang petugas yang duduk mewawancari mereka, bergiliran mereka ditanya, selesai wawancara uang pun berpindah tangan, begitu seterusnya sampai antrian habis, tidak nampak seorang pun yang ditolak dalam proses pemberian kredit ini.

Dalam mencicil pinjaman, kembali diperlihatkan seorang petugas GB duduk diatas kursi sederhana dihalaman rumah penduduk, terlihat disebelahnya sepeda dinas yang berdiri diatas standarnya, dihadapannya duduk, lebih tepatnya ‘nongkrong’ karena memang mereka benar2 nongkrong, terlihat mereka sudah siap dengan uang cicilan dan selembar kartu di tangan masing-masing. Petugas itu mengabsen mereka dengan cara menyebut nama satu persatu, menerima uang cicilan dan mencatatnya di kartu yang mereka pegang dan mengembalikan kartu itu kembali kepada mereka.

Muhammad Yunus seringkali berkeliling menemui para nasabahnya, dia mengenal mereka seperti mereka mengenalnya, satu persatu dihampirinya seraya mengucapkan salam, disapa dan ditanya, nampak berderet para wanita dengan sapi-sapi disampingnya, ketika ditanya, “Berapa banyak uang untuk membeli sapi ini dulu?”, “8000 taka”, “Berapa nanti jika dijual?”, “12.000 taka”, jawab wanita itu. “Nah ada selisih keuntungan sebesar 4000 taka, pakailah itu untuk keperluan sekolah”, kata Muhammad Yunus lagi.

Grameen Bank , grameen yang dalam bahasa Bengal artinya kampung, kini memiliki 14.000 pegawai yang tersebar di 1.400 cabang diseluruh Bangladesh dengan jumlah nasabah lebih dari 11 juta orang, 94% diantaranya adalah wanita, jumlah uang yang telah didistribusikan hampir 5 milyar USD. Padahal awalnya hanya berupa pemberian sebesar 27 USD yang dikeluarkan dari kantong sendiri dan dibagikan kepada 42 wanita miskin didesa yang lalu dibelikan ayam atau dipakai berjualan telor.

Selama penayangan film tersebut, entah kenapa saya selalu teringat dengan para tukang kredit keliling yang dulu sering saya jumpai, kebanyakan dari mereka berasal dari daerah Tasikmalaya.

Masih segar dalam ingatan, seorang bapak yang menaiki sepeda dengan sebuah tas kecil yang dihampirkan disepedanya dan dibelakang sepedanya ditempat boncengan, nampak tumpukan barang-barang kebutuhan sehari-hari yang kebanyakan terbuat dari plastik. Dia berkeliling kampung menwarkan barang dagangannya, para ibu-ibu banyak yang senang menyambutnya, karena dimata mereka, bapak ini adalah penolong. Para ibu-ibu tadi tidak perlu membayar tunai, boleh dicicil pembayarannya setiap hari, 1000 atau 2000 rupiah sesuai kemampuan (dulu mungkin seperak dua ratus perak kali ya). Terlihat ada yang mengambil kursi plastik, kompor, minyak goreng dan lain sebagainya, bahkan tidak jarang si bapak itu sibuk mencatat pesanan para ibu-ibu, yang keesokan harinya pasti dia sudah kembali kepada ibu-ibu itu lengkap dengan barang pesanan mereka.

Semua transaksi ini tanpa memerlukan tanda tangan ibu-ibu itu atau surat hutang yang canggih-canggih lengkap dengan materai atau apalagi akta notaris, semuanya dilakukan atas dasar saling percaya, si bapak ini hanya mencatatnya dalam buku yang selalu nampak dia bawa-bawa berkeliling, dia tidak pernah meminta colateral atau jaminan berupa apapun bahkan si bapak ini pun tidak pernah memaksa para ibu-ibu untuk membayar cicilannya itu, cicilan diserahkan sepenuhnya sesuai kemampuan masing-masing, kadang dia mendapat pembayaran teratur kadang tidak tapi yang pasti dia tetap setia menemui ibu-ibu tersebut setiap harinya. Tidak pernah terjadi sengketa apalagi sampai berurusan dengan polisi, jaksa dan pengadilan, tidak ada sita barang, semua diselesaikan dengan cara kekeluargaan dan damai, tidak jarang si bapak ini tidak mendapatkan kembali uangnya tersebut, kebanyakan dia mengalah dan pasrah, mungkin karena si bapak ini adalah perantauan didesa tersebut…entah…yang pasti kebanyakan orang semacam bapak tersebut dikenal berasal dari daerah yang yang sama yaitu Tasikmalaya yang pergi mengembara mencoba mencari peruntungan nasib yang lebih baik.

Tukang Kredit, itulah gelar mereka…..dari Tasik, itu tambahan gelar bagi mereka. Sayang mereka telah kena stigmasisasi, konotasi jelek melekat kepada mereka dengan sebutan rentenir keliling. Marilah sejenak kita coba merenung, sesungguhnya potensi yang telah mereka tunjukkan ini luar biasa, mirip dengan Grameen Bank, tanpa agunan dan kebanyakan nasabahnya adalah ibu-ibu, mereka tidak pernah menjadi kaya raya, paling tidak dalam ingatan saya mereka tetap setia dengan sepedanya yang telah karatan dimakan usia, tidak ada satupun dari mereka yang kemudian kaya raya menjadi Milyuner, punya pabrik, perusahaan atau Bank ini itu…mereka fade away dimakan zaman…kini sulit mencari Tukang Kredit Keliling asal Tasik. Jika saja ada yang mau berpikir dan mengembangkan “system” mereka ini, saya yakin niscaya mereka tidak kalah dengan seorang Proessor seperti Muhammad Yunus, sungguh bangsa ini memiliki kekayaan khasanah yang demikian banyak, tinggal bagaimana kita mau belajar dan mengembangkan serta mengarahkannya sehingga menghasilkan banyak hal positif.

Slipi, Jakarta

Friday, November 10, 2006

Pahlawan disekitar kita

Hari ini, Jumat 10 November 2006, ada begitu banyak undangan untuk memperingati Hari Pahlawan di negeri ini. Entah kenapa rasanya malas untuk hadir, bukan apa-apa rasanya perayaan ini akan sama saja seperti tahun-tahun yang telah lalu. Kita diajak kembali mengenang jasa-jasa para pahlawan tersebut yang memang nyata telah banyak berbuat untuk negeri ini, tetapi sedikit sekali yang mau mempelajari dan mengikuti jejak-jejak mereka, sepertinya kisah-kisah mereka hanya menjadi hiasan sejarah bangsa.

Ya memang banyak yang telah melupakan bagaimana awal perjuangan para pahlawan besar negeri ini, sesungguhnya para pahlawan tersebut berjuang dari hal-hal sepele yang nampak dalam kehidupan sehari-hari mereka, yakni dimulai dari membela si lemah. Hati mereka tidak tenteram dan gelisah karena mengetahui ada saudara sebangsanya yang hidup dalam penderitaan dan penindasan, bahkan mereka ini berani keluar dari kenyamanan dan kemapanan hidup mereka hanya demi memperjuangkan nasib saudara sebangsanya itu, berbagai resiko dengan berani mereka hadapi.

Dalam kekinian untunglah masih ada beberapa anak bangsa yang masih mau berjuang bersama memikirkan nasib si lemah yang terpinggirkan, korban berbagai kepentingan di negeri ini, mereka menaruh rasa kasih yang tulus terhadap nasib si lemah di tanah airnya sendiri, terusir dari kampung halamannya, dipaksa keluar dari keyakinan yang telah dijalaninya puluhan tahun atau dipaksa untuk mengikuti agama ‘resmi’ di negeri ini. Ada banyak catatan mengenai hal ini, ditutupnya tempat-tempat ibadah warga Kristiani yang telah mereka pergunakan bertahun lamanya dengan berbagai alasan yang dibuat-buat, dirusak dan dibakarnya masjid-masjid warga Ahmadiyah tempat mereka shalat berjamaah semenjak mereka kecil dulu bahkan beribu penghayat Kepercayaan tidak mendapat perlakuan yang layak dari Pemerintahnya yang notabene adalah bangsanya sendiri, pernikahan mereka tidak diakui dengan akibat fatal yakni tidak adanya surat nikah dan ini berimbas langsung kepada anak keturunan mereka, Pemerintah dengan sengaja tidak mengeluarkan sekedar Akta Kelahiran buat anak-anak mereka, padahal seluruh urusan birokrasi di negeri ini melulu berdasarkan kepada selembar Akta Kelahiran atau Surat TandaKenal Lahir…sungguh kasihan nasib mereka ini.

Patut kita bersyukur, negeri ini ternyata masih mempunyai beberapa anak bangsa yang berperilaku luhur, yang begitu besar perhatiannya kepada nasib saudara sebangsanya yang tidak begitu beruntung yang karena berbagai sebab telah menjadi korban yang terpinggirkan dan bahkan hampir terlupakan. Bangsa ini beruntung karena dikaruniai seorang Gus Dur yang memiliki wawasan kebangsaan dan kemanusiaan yang begitu luas, tanpa memperdulikan kondisi kesehatannya beliau tidak pernah lelah berbicara kesana kemari, hadir dalam seminar-seminar dan acara-acara talk show langsung di media televisi, radio hanya untuk membela si lemah ini. Prof. Dr. Dawam Rahardjo yang kini terbaring lemah karena sakit masih tetap penuh semangat dan sangat produktif lewat tulisan-tulisannya membela kaum tertindas yang hanya karena berbeda penafsiran telah di “hukum” sedemikian rupa sehingga beberapa diantaranya seperti kehilangan hak untuk hidup di negri ini, mereka kini masih mengungsi di asrama Transito, sudah 9 bulan lamanya mereka terusir dari tempat mereka tinggal di desa Gegerung, Mataram, Lombok, karena inilah beliau kemudian dikeluarkan dari Muhammadiyah oleh Din Syamsudin, padahal Muhammadiyah adalah tempat beliau dibesarkan selama ini, banyak jasa-jasa beliau terhadap Muhammadiyah, bahkan kesedihan ibu kandung beliaupun tidak membuat mas Dawam surut dalam perjuangannya. Djohan Effendi dengan ICRP (Indonesian Conference On Religion and Peace) telah lama berjuang memfasilitasi tidak hanya si lemah yang berbeda keyakinan tetapi bahkan juga bagi yang ingin menikah antar agama, karena dinegeri ini pernikahan berbeda agama tidak diakui Pemerintahnya, ironisnya pernikahan yang dilakukan di Singapore, misalnya, diakui oleh Pemerintah negeri ini hanya karena pernikahan itu telah mendapat selembar akta dari negeri tetangga kita itu, menyedihkan memang. Bang Buyung (Dr.Iur. Adnan Buyung Nasution, S.H.) dalam kematangan usianya tampil gagah membela warga Ahmadiyah, berkali-kali sudah beliau datang ke DPRI-RI bertemu dengan para wakil bangsa untuk membicarakan masalah bangsa ini, ya memang masalah perbedaan keyakinan/agama/kepercayaan telah menjadi issue nasional bahkan dunia di negeri ini. Yang ditulis ini sesungguhnya adalah hanya sebagian kecil yang diketahui dan dapat disampaikan melalui media ini, ada banyak deretan prestasi mereka dalam membela si lemah di negeri ini.

Mudah-mudahan hari ini yang merupakan Hari Pahlawan, memberi inspirasi mendalam tidak hanya bagi segelintir anak bangsa, tetapi bagi kita semua, mari kita semua bangkit bersama, karena kita semua mampu untuk menjadi pahlawan negeri ini dan sesungguhnya kita adalah pahlawan-pahlawan sejati yang tanpa mengharap imbalan apapun yang diharapkan dan dinanti oleh banyak anak bangsa yang masih tertinggal dan bahkan tertindas hidup dibawah tekanan, ketakutan dan kemiskinan, mari kita merdekakan mereka…MERDEKA!!!

Slipi, Jakarta, Friday, November 10, 2006 22:56

Blogged with Flock

Thursday, November 9, 2006

Sahabat

Sahabat….kata ini memiliki begitu banyak arti bagi seseorang, banyak yang mendambakan memiliki sahabat sejati yang senantiasa setia setiap saat dalam keadaan apapun bersedia menjadi tempat mengadu, bercerita, berharap dan mendapat pertolongan. Banyak sekali teori yang mencoba mendefinisikannya, Kong Hu Cu mengatakan, “Satu musuh terlalu banyak, seribu sahabat terasa masih kurang”. Sungguh betapa besar peran seoang sahabat dalam kehidupan seseorang.

Begitu banyak kisah yang telah terjadi dimuka bumi ini yang menceritakan kisah-kisah persahabatan sejati, tanpa sahabat niscaya tidak akan pernah kita mengenal orang-orang besar yang pernah tercatat dalam sejarah kehidupan manusia, mereka berjuang bersama, saling berbagi dan saling menghormati, keberhasilan mereka tidak lepas dari begitu banyak dukungan dan peran penting para sahabat yang mengelilingi dan menyertai kehidupan mereka.

Kita mengenal Attila the Hun, Jeng Ghis Khan, The Great Alexander, Napoleon Bonaparte, King Arthur bahkan Gajah Mada, aku yakin, niscaya tidak akan pernah mampu memenuhi sumpahnya yang terkenal itu, Sumpah Palapa, jika saja tidak dikelilingi oleh para Bhayangkara yang setia mengikuti kemana saja Dia pergi.

Tetapi yang menarik hatiku adalah bagaimana mereka ini memperlakukan para sahabatnya yang telah begitu setia hidup bersama dalam suka dan duka, berjuang bersama…banyak kisah sedih yang dialami para sahabat setia ini, Alexander terpaksa membunuh sahabatnya sendiri hanya karena masalah sepele, Hitler meninggalkan bahkan memburu para sahabat yang telah membesarkannya menjadi seorang Fuhrer…..Jeng Ghis Khan meragukan kesetiaan anak lelaki tertuanya sendiri padahal selama ini telah berjuang bersama sehingga mampu menaklukan daerah yang begitu luas…kebanyakan ini mereka gagal mempertahankan persahabatan justru dipuncak keberhasilan mereka. Intrik dan tipu muslihat mereka tebar hanya untuk saling menjatuhkan, konspirasi dan persekongkolan jahat marak tumbuh diantara mereka sendiri…sungguh aku menaruh iba mendalam akan nasib persahabatan mereka itu…..sungguh sayang.

Untunglah masih banyak kisah tentang persahabatan yang terjadi sebaliknya dari itu di duna ini, aku menerawang mengenang kembali kisah-kisah para orang suci dunia yang telah lama berlalu dari kita, bagaimana mereka memperlakukan para sahabatnya. Masih sering kita jumpai di Televisi kisah seorang Pendeta Budha yang diiringi kelima sahabat setianya, ada Sun Go Kong, Siluman Babi dlsbnya, Yesus dengan para sahabat dan murid setianya, Musa dengan Harun dan banyak lagi contoh…..

Diantara semua kisah itu ada satu riwayat yang begitu membekas dan mendalam jauh didalam lubuk hati sanubariku, yang bila mengingat-ingatnyanya kembali mampu meneteskan airmata kerinduan berjumpa dengan wujud sempurna tersebut, dia pernah hidup begitu lama jauh sebelum aku dilahirkan, ribuan tahun yang lalu. Membaca kisahnya membuat aku merasa begitu dekat dengannya, merasa begitu mengenalnya, serasa dia hidup dan hadir disekitarku dalam keadaan apapun, dalam keadaan cemas, khawatir, takut dan putus asa…sungguh dia hidup dialam pikiranku melalui ajaran-ajarannya yang sungguh mulia, lewat perilakunya yang memperlihatkan ketinggian akhlak sempurna yang mampu dicapai oleh seorang manusia….wujud yang begitu bersahaja, sederhana dan miskin harta dialah Muhammad Mustafa Rasulullah saw, sungguh aku patut bersyukur kepadaNya karena telah diperkenalkan dengan wujud mulia yang menjadi teladan dalam kehidupanku sehari-hari.

Mengenang kembali kehidupan beliau bersama para sahabatnya, mengenang kembali masa-masa diawal perjuangan, susah bersama, hijrah tertatih ke Madinah berdua dengan sahabat setianya, Abu bakar ra sambil dikejar-kejar kaum kuffar Makkah yang masih keluarga beliau saw sendiri sampai ketika tiba masa Kemenangan, masa Fatah Makkah dan dimulainya suatu kehidupan yang dikatakan dalam sejarah dunia adalah kehidupan dengan masa yang terbaik bagi seluruh umat manusia, tidak ada masa yang lebih baik dari masa itu…..dalam keadaan seperti itu, lihatlah bagaimana beliau saw dengan rendah hati memperlakukan para sahabatnya, tidak satupun ada sahabat yang ditinggalkannya, tidak satupun ada yang bersaksi mengenai perlakuan beliau terhadap para sahabatnya itu yang dapat memutuskan tali persahabatan mereka bahkan beberapa diantaranya walaupun bekas seorang budak dijadikannya anggota keluarganya dengan cara menikahkannya dengan sanak kerabat beliau sendiri. Abu Hurairah ra sahabatnya yang miskin dan dulu sering tinggal di masjid dengan kucing2nya dijadikannya Gubernur di Bashra yang makmur….bagiku inilah bentuk persahabatan antar manusia yang paling luhur, sungguh tidak ada bandingnya.

Persahabatan seperti itulah dambaanku, aku ingin, siapa saja yang pernah bergaul, bercakap-cakap, berkenalan, berjumpa dan bahkan walau hanya melihatku sekilas sekalipun, dia sudah kuanggap menjadi sahabatku, tanpa memandang berapa usianya saat itu bahkan bayi yang belum melekpun, aku ingin dalam keadaan apapun mereka tetaplah sahabatku, aku ingin tidak ada satupun kekuatan yang mampu mengendurkan ikatan tali persahabatan itu.

Slipi, Jakarta. Thursday, November 9, 2006

Blogged with Flock

Thursday, October 26, 2006

“…mau kaya apa mau miskin?”

 

“Mubarik…mau kaya apa mau miskin?”, itulah pertanyaan yang diajukan oleh orang yang sangat saya hormati di Indonesia ini, Mln.H.Mahmud Ahmad Cheema, sembilan belas tahun yang lalu tepatnya hari Jumat tanggal 27 Februari 1987 sekitar pk.22.00 dirumah Ketua Cabang Tangerang, Rujito Hadi (alm).

Hari itu kebetulan Cabang Tangerang mendapatkan karunia dikunjungi oleh Amir/RaisutTabligh Jemaat Ahmadiyah Indonesia, Mln.H.Mahmud Ahmad Cheema yang didampingi oleh Mln.Zafrullah Nasir Ahmad dan Mln.Basyiruddin Ahmad (alm), saat itu saya berusia 24 tahun dan menjabat Sekretaris Khas Cabang Tangerang.

Kunjungan tersebut adalah kunjungan kerja resmi Amir/RaisutTabligh ke Cabang Tangerang, diawali dengan shalat Jumat, kemudian makan siang bersama di Masjid An Nur, Babakan Tangerang dan dilanjutkan dengan rapat pengurus, boleh dibilang cukup lengkap hadir hampir semua pengurus, acara diakhiri dengan shalat Maghrib dijama Isya dan ditutup dengan makan malam bersama.

Saya tidak akan menceritakan jalannya rapat itu, tetapi ada sesuatu kejadian menarik yang akan saya ceritakan yang terjadi saat rombongan akan bermalam menginap dirumah Ketua Cabang Jl.Nyi Mas Melati No,2B. Kami tiba dirumah Ketua Cabang sekitar pk.19.00, kami hanya ngobrol2 ringan sambil minum teh susu panas yang disediakan tuan rumah, karena waktu sudah cukup malam yakni sekitar pk.22.00 maka tuan rumah mempersilahkan rombongan untuk beristirahat…nah disaat seperti itulah entah kenapa tiba-tiba Amir/RaisutTabligh, Mln.H.Mahmud Ahmad Cheema mengajukan pertanyaan khusus tersebut langsung kepada saya, “Mubarik…mau kaya apa mau miskin?”.

Terus terang pertanyaan itu telah saya pendam selama 6 tahun. Pertanyaan ini muncul dibenak saya sejak saya gagal masuk AKABRI pada tahun 1981 setelah diuji selama satu bulan penuh di Magelang, padahal dulu tuh PD banget rasanya bakalan keterima hehehe. Kenapa saya ingin menjadi ABRI, jawabnya simpel aja, saya tuh gak mau pusing2 cari duit…usaha ini usaha itu…rasanya cukuplah hidup mengandalkan gaji perwira ABRI saja. Nah setelah gagal itulah baru kepikiran, mau jadi apa…..

Atas pertanyaan pak Cheema, ini panggilan saya kepada beliau sedangkan orang lain biasa dengan sebutan tuan, yang diajukan malam itu, segera saja saya menjawabnya dengan tegas, “Saya mau jadi orang kaya pak”.
Mendengar ini kontan beliau tertawa terkekeh disusul oleh derai tawa pak Zafrullah Nasir dan pak Basyiruddin. Belum selelsai mereka dengan tawanya, saya susul dengan penjelasan, “Saya gak mau miskin, karena miskin itu dekat dengan kekufuran, kata suatu riwayat, gak kebayang kan udah miskin didunia…eh nanti diakherat kelak masuk neraka lagi…kapan enaknya kalau gitu…lagipula kalau orang miskin bikin dosa itu kebanyakan karena kepepet, nekat dan sadar…daripada gak makan, katanya, kalau orang kaya mah bikin dosa biasanya karena lupa diri, terlena dan lengah atau kena bujuk rayu…jadi rada mendinganlah gitu…hehe”, eh…tawa beliau-beliau ini makin menjadi.

Saya lanjut dengan alasan kedua, “Ada riwayat lain, suatu ketika datang serombongan orang miskin kehadapan Rasulullah saw, mereka berkata, ya Rasulullah kami ini iri dengan orang2 kaya, kenapa, tanya Rasulullah saw, orang2 kaya itu selain shalat juga bersedekah, sedangkan kami adalah yang menerima sedekahnya, jadi maunya apa, tanya Rasulullah saw, ajarilah kami suatu amalan yang nilainya sama dengan sedekahnya orang kaya itu…maka Rasulullah saw mengajari mereka, setelah selesai shalat, bacalah subahanallah sebanyak 33 kali, alhamdulillah 33 kali dan Allahu akbar 34 kali, niscaya amalan engkau ini sama dengan sedekahnya orang kaya itu…..beberapa hari kemudian datang kembali orang2 mskin tersebut, ya Rasulullah ternyata kini mereka tahu amalan tersebut dan mereka juga mengamalkannya seperti kami, begitu adu mereka, Rasulullah saw menjawab, orang kaya yang seperti inilah yang disukai Allah…nah pak Cheema, saya ingin menjadi orang kaya yang seperti itu”,….

Sebetulnya pertanyaan dan jawaban ini dulu tahun 1981 sudah sering saya diskusikan kepada beberapa mubaligh, tetapi saya tetap merasa kurang puas, daripada capek mikirin ya sudah saya pendam dan diamkan saja selama ini, saya yakin suatu saat nanti Dia akan memberi jawabnya.

Mendengar penjelasan saya yang kedua ini, pak Cheema berkata, “Tuan Basyiruddin, kasih nasehat Mubarik”. Kemudian Mln.Basyiruddin mengucapkan, “Allahumma ahyiini miskiina wa amni miskiina wahsirni fi zumrotil masakiini yaumal qiyamah, ketahuilah Rasulullah saw senantiasa membaca doa ini”, saya cepat merespon, “Artinya?”. “Ya Allah berilah hamba hidup dalam kemiskinan, wafatkan dalam keadaan miskin dan bangkitkan nanti dihari kenudian dari antara orang2 miskin”. demikian Mln.Basyiruddin menjelaskan.
Mendengar ini saya ‘penasaran’ sekali, permohonan saya selanjutnya untuk ‘menggali’ lebih dalam nasehat ini tidak dikabulkan karena memang hari sudah larut malam.

(bersambung)

Tuesday, October 24, 2006

Diundang Buka Puasa Bersama oleh seorang Pendeta Nasrani dirumahnya

 

Hari itu, Jumat tanggal 6 Oktober 2006, mendekati saat shalat Jumat, kembali saya melihat SMS yang dikirim oleh dr.Wahyono Rahardjo (74), beliau adalah seorang Penghayat Kepercayaan dan Ketua Badan Koordinasi Organisasi2 Kepercayaan (BKOK) yang tersebar diseluruh Indonesia dan juga beberapa negara lainnya, selain itu beliau juga kami minta untuk menjadi Ketua BPKBB, Badan Perjuangan Kebebasan Beragama dan Berkepercayaan, yang anggotanya terdiri dari berbagai macam agama, aliran dan tokoh2, diantaranya Prof.Dr.Dawam Rahardjo, Bismark Siregar, Prof.Dr.Jalaludin Rahmat, Pdt.Dr.Chevrolet Lumban Toruan Sihombing, J.H.Lamardy (tokoh Ahmadiyah) dan masih banyak lagi.

Bunyi SMS tersebut sebagai berikut, “Undangan buka puasa bersama BPKBB, Jumat, 6 Oktober 2006 pk.17.00 di rumahnya Pdt.Chevrolet jalan……”.
Sudah yang keberapa kalinya saya membaca SMS tersebut….bayangkan undangan buka puasa bersama yang diadakan oleh seorang Pendeta Nasrani, dirumahnya lagi, saya hanya mampu mengucap, Subhanallah….

Disaat begitu maraknya kebencian antar sesama umat Islam, yang ditandai dengan penyerangan Kampus Mubarak milik Jemaat Ahmadiyah Indonesia tahun 2005 lalu, kasus Yusman Roy, kasus penyerangan dan perusakan tempat tinggal Ahmadiyah dan Pesantren Salafiyah di Lombok, kasus penyerangan dan persidangan Kelompok Eden, belum lagi kasus-kasus penutupan paksa Gereja yang dilakukan sekelompok umat yang mengatas namakan Islam di Bandung dan Bekasi…..sungguh, undangan buka puasa bersama yang dilakukan oleh seorang Pendeta Nasrani bagi para tamunya yang kebanyakan muslim adalah suatu keajaiban, bagaikan oase yang menyejukkan ditengah gurun pasir. Hanya Tuhanlah yang mampu menggerakkan hati orang tersebut. Masya Allah…..
Saya terkenang suatu kisah yang meriwayatkan mengenai hubungan mesra yang terjalin tatkala Rasulullah saw menerima kunjungan beberapa orang Nasrani dirumah beliau, dimana pada waktu itu beliau mempersilahkan para tamunya untuk melaksanakan ibadah dirumahnya.

Banyak yang hadir dalam acara buka puasa tersebut, diantaranya adalah kang Jalal, www.jalal-center.com, beliau adalah Ketua IJABI. Ada kejadian menarik setelah selesai berbuka puasa dengan makanan ringan yang manis (tajil), ternyata tuan rumah, Pdt.Dr.Chevrolet telah menyulap satu kamarnya menjadi sebuah mushala kecil yang cukup menampung seluruh undangan untuk shalat berjamaah (bagi yang muslim tentunya).

Karena memang diantara kita telah terbina hubungan yang sedemikian akrabnya, maka spontan saya nyeletuk, “hayo siapa yang mau sholat berjamaah, ditunggu”. Saya tahu sekali bahwa seorang Ahmadi tidak diperkenankan untuk bermakmum dibelakang seorang non Ahmadi, dan biasanya teman2 IJABI pun, setahu saya, sholat Maghrib dan Isya biasa di jama takhir agak malam sedikit, sekitar pk.21.00-22.00. Nah seorang wanita anggota IJABI, sebut saja namanya Eraz M.Eng, dengan gaya yang juga spontan berkata cukup keras karena semua hadirin dapat mendengarnya, “Mubarik yang jadi imam sholatnya ya, kita semua mau mendengar bacaan surahnya, bagus apa tidak dan nanti saya minta agar kang Jalal menjadi makmum”.

Keruan muka saya merah (kali ya) dengan sedikit rasa malu mendengarnya, maka jadilah saya menjadi imam sholat Magrib yang dijama dengan Isya dengan salah seorang makmumnya adalah kang Jalal. Terus terang saya merasa kikuk sekali, dalam hati, “sialan neh gw dikerjain sama Eraz hehehe…”, kenapa…karena dibanding dengan beliau apalah artinya saya ini, pengetahuan beliau itu begitu luas, boleh dibilang beliau adalah laksana guru bagi saya, tetapi menghadapi keadaan seperti itu, beliau begitu arif dan bijaksananya serta mau memahami ‘kebiasaan’ para AhamdiMuslim yang ‘tidak biasa’ bermakmum dibelakang seorang non Ahmadi.
Selesai sholat beberapa teman memberi komentar yang lalu buru-buru saya menjawabnya; “Jadi imam sholat itu ibarat supir, tadi barusan saya disuruh ‘menyopiri’ kang Jalal, yah keluar keringat dingin deh hehehe….”.

Malam itu sungguh menjadi malam yang luar biasa bagi saya seorang yang sangat lemah dalam ilmu pengetahuan, miskin rohani dan jasmani, malam itu Dia banyak memberi ‘pelajaran’ berharga kepada saya, sungguh saya merasa beruntung dapat menghadiri acara berbuka puasa dirumah Pdt.Dr.Chevrolet Lumban Toruan Sihombing.

Slipi, Jakarta.

Monday, October 23, 2006

Bikin Ketupat Bareng

Slipi, Jakarta pk.19.00 wib.

Sudah dua hari ini kedua pembantu dirumah pulang kedaerahnya masing-masing, satu ke Lampung satunya lagi ke Jateng.

Saya kasihan melihat isteri sibuk bekerja dirumah, lebih kasihan lagi melihat ‘nasib’ anak2….dibanding zaman gw dulu, biasanya liburan menjelang Lebaran amat dinanti, karena itu berarti pulang kampung kerumah Kakek di Gondrong sana, hari-hari bisa ‘ngangon’ kebo, cari jangkrik malam2 sepulang tarawih, siangnya mandi2 disungai, sambil mancing ikan cecere dan rasanya gak kurang tuh kesibukan menjelang Lebaran….termasuk juga bantuin ngaduk dodol ala Betawi yang pake kuali gede banget…atau numbuk uli pake wadah khusus yang sengaja dibuat dari janur kelapa….

Anak2 zaman sekarang selalu mengisi kesibukan liburannya didepan Komputer main internet, bikin testimony buat FS atau main PS2….diajak jalan2 keluar kota? Sami mawon, mereka lebih senang didalam kamar hotel….sambil lagi2 main PS2….kesel deh.

Nah timbul iseng gw, untuk ngajarin mereka bikin ketupat….setengah dipaksa anak gw yang nomor dua gw ajak naik motor ke Pasar Slipi untuk beli janur kuning, awalnya ogah2an…yah udah gw ‘towel’ aja tuh tombol reset PS2nya hehehe….

Akhirnya jadi jugalah kita berdua beli itu Janur, harganya sepuluh batang Rp.1500,00 sedangkan yang sudah berbentuk ketupat 10 bijinya Rp.3000,00.

Sesampainya di rumah, gw ajarin mereka termasuk ibunya bagaimana membuat ketupat….wah gak disangka, mereka rupanya tertarik sekali dan dengan gembira berebutan minta diajarin dan berkali-kali mereka mencoba….memang ada dua macam model ketupat, yang satu model bawang yang satunya lagi model segi empat…kedua-duanya dengan antusias mereka pelajari….

Gak berapa lama selesailah 30 puluh biji ketupat…emang seh gw yang paling banyak bikinnya hehehe….

Dengan petunjuk gw (tentunya), Nabil, Kelas 1 SMU, sibuk mempersiapkan kompor minyak tanah, maklum boros banget kalau pake LPG, pinjam panci besar ketetangga depan rumah, sementara anak yang kedua si Khalid, kelas 6 SD, sibuk mencuci beras, rupanya dia sudah pintar menakar berapa banyak kira2 beras yang diperlukan nantinya….

Setelah menyalakan kompor (yang bisa nyalain cuma gw doang hehe) serta diatasnya ditaruh panci besar yang telah diisi dengan air, maka kesibukan kami bertiga adalah mengisi ketupat dengan beras yang telah dicuci bersih, “hati2 jangan terlalu sedikit ngisinya nanti jadinya lembek juga jangan terlalu banyak nanti gak enak dimakannya, isi kira2 2/3nya aja”, begitu petunjuk gw kepada mereka berdua.

Nabil begitu gembira, sampai2 dia ingin buru-buru mengisi Blognya tuh, bagaimana cara membuat ketupat, “ini baru Lebaran neh….kerasa bener karena bikin ketupat….hehehe”, begitu dia bilang.

Sekarang kami sedang menunggu ketupat itu matang….masih 2 jam lagi, lama memang, agar tahan disimpan nantinya.

Saya bersyukur karena masih bisa mengkhidmati anak2 dan keluarga walaupun bukan dengan materi yang berlimpah, sejak dari dulu anak2 saya tidak pernah minta dibelikan baju atau sepatu baru untuk Lebaran….saya jadi teringat dengan ibu yang begitu saya cintai, beliau dulu selalu mampu membelikan baju dan sepatu baru buat ke enam (6 loh) anak2nya menjelang Lebaran, saya tahu walaupun untuk itu ibu membanting tulang bekerja keras, karena gaji seorang guru ditambah gaji seorang pangkat rendahan Polisi tidaklah cukup memadai, saya menaruh rasa hormat yang khusus kepada bapak karena beliau tidak pernah mau mencari penghasilan tambahan dengan mempergunakan pakaian dinasnya, masya Allah, untuk itu saya ingin kelak agar anak2 saya bisa hidup dalam kesederhanaan tanpa perlu sepatu baru atau baju baru Lebaran dan saya bersyukur Allah tidak menjadikan saya kaya raya. Alhamdulillah.

Saya selalu ingat dengan doa yang diajarkan salah seorang sahabat sekaligus guru yang saya hormati dan senantiasa saya baca karena Rasulullah saw pun membacanya setiap hari, ALLAHUMMA AHYINI MISKIINAN WA AMNI MISKIINAN WAHSIRNI FI ZUMROTIL MASAKIINI YAUMAL QIYAMAH.

Salam, Mubarik.
“Happy Eid Mubarak 1427H”.